0

Percuma Saja Berdo'a, Tuhan Tak Bakal Mengabulkan....

Rabu, 16 Mei 2012

Api itu menyala karena dorongan telapak tangan kecilku. Aku terkesima dan takjub luar biasa. Karena penasaran, aku matikan apinya dan kembali memejamkan mata, konsentrasi penuh kepada keinginan agar dengan bantuan Tuhan serpihan kayu itu bisa menyala, kemudian aku hempaskan telapak tanganku ke arah serpihan kayu seraya melafadzkan basmalah, “Bismillahirrohmaanirrohim….!!!”

Dan, blarrrr! Api menyala membakar serpihan kayu seperti membakar kertas koran. Dalam batinku, aku merasa ternyata aku hebat. Hanya dengan hempasan tangan api bisa menyala. Segera aku matikan apinya dan mengulangi gerakan seperti di atas. Ternyata untuk kali ketiga hempasan tanganku tidak mampu menyalakan api. Lalu aku ulangi, masih belum bisa. Diulangi lagi sampai kesekian kali, ternyata tidak ada lagi api yang keluar membakar serpihan kayu.

Peristiwa di atas adalah nyata. Aku masih berumur sembilan tahun. Ketika itu liburan kenaikan ke kelas empat sekolah dasar. Kebetulan ada seorang kakak iparku yang bekerja di sebuah bengkel meubel di daerah Kramat Jati, Jakarta, mengajakku selama dua minggu untuk jalan-jalan ke ibukota.

Suatu hari aku diajak ke tempatnya bekerja. Seorang pekerja aku perhatikan sedang berusaha menghidupkan api untuk membakar dempul. Tapi rupanya sang api tidak kunjung menyala. Dia pergi mencari ke sudut-sudut bengkel untuk mencari sesuatu yang mudah menyala.

Iseng aku dekati tumpukan beberapa batu batu yang dijadikan tungku untuk membakar kaleng bekas yang berisi bahan dempul. Aku perhatikan beberapa serpihan kayu sedah terbakar sebagian dengan menyisakan bara kecil. Dan, aku ingat kata ustadxku di madrasah yang mengatakan bahwa Tuhan itu bid dzonni ‘abdih (Tuhan tergantung dari persangkaan hamba-Nya).

Apa yang ada di dalam benak seorang bocah sembilan tahun? Secara naluri, dengan kesederhanaan pemikiran dan keterbatasan pengalaman sangat mudah baginya untuk meyakini sebuah asumsi. Apa lagi jika asumsi itu datang dari seseorang yang di mata Sang Bocah adalah sosok panutan yang harus digugu dan ditiru

Demikianlah, ketika aku begitu meyakini bahwa Tuhan selaras dengan apa yang aku pikirkan tentang-Nya, maka aku pun bisa melakukan apa yang ada dalam pikiranku. Yakni, dengan jalan berdo’a dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan mengabulkan apa yang menjadi keinginanku..

Benarkah demikian? Selalu berdo’akah anda? Apa saja yang anda pinta dalam do’a-do’a anda? Sedikit evaluasi, dari sekian banyak permintaan dalam do’a anda coba sebutkan apa saja yang sudah dikabulkan dan apa saja yang belum dikabulkan. Aku selalu berdo’a setiap waktu. Khususnya setiap usai salat lima waktu. Banyak permintaan yang aku sampaikan dalam do’aku. Tapi sejujurnya, aku tidak tahu mana-mana do’a yang sudah dikabulkan dan yang belum dikabulkan.

Yang aku rasakan adalah bahwa sangat sering aku mengucapkan do’a dengan pikiran yang tanpa fokus, serta tanpa keyakinan. Karena ternyata untuk meyakini suatu do’a yang kita panjatkan adalah sangat tidak gampang. Apa yang ada dalam pikiranku sekarang sangat berbeda jauh dengan ketika aku masih berumur sembilan tahun.

Banyak hal yang telah aku lihat, banyak prilaku yang telah aku perbuat dan banyak pengalaman yang telah melibatkan kejiwaanku ternyata merubah keadaan mental spiritualku. Harapan-harapan yang tidak terwujud, keinginan-keinginan yang masih tetap saja menjadi keinginan serta banyaknya kegagalan yang pernah aku alami, memunculkan keraguan dalam setiap do’aku.

Bagaimana Tuhan akan mengabulkan do’aku jika aku sendiri meragukan bahwa Tuhan akan memberi apa yang aku minta? Kalau begitu, percuma saja aku berdo’a jika tahu do’aku bakal tidak terkabul…..

Barangkali, anda juga pernah merasakan hal yang sama bukan? Merasakan sulitnya untuk memiliki keyakinan saat berdo’a, sehingga do’a anda hanya di mulut seperti orang mengigau. Misalnya, suatu ketika dalam tidurnya anak anda berteriak-teriak, “Ayah, Ibu…. Ganti channel tivinya, ade mau nonton film kartun….!” Apakah mungkin anda akan bangun kemudian menyalakan tivi dan mencari acara film kartun?

Terlepas dari apakah kita bisa atau tidak meyakini dari setiap do’a yang kita panjatkan, maka sesungguhnya tidak penting apakah Tuhan bakal mengabulkan atau tidak dari do’a yang kita panjatkan. Karena berdo’a adalah perintah Tuhan. Dalam sebuah hadist riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda, do’a adalah inti ibadah. Sedangkan tujuan Tuhan menciptakan jin dan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Meski pun begitu, aku masih sering berkhayal, seandainya mental spiritualku seperti ketika masih berumur sembilan tahun boleh jadi aku bisa melakukan apa saja yang ada dalam pikiranku!

0 Responses to "Percuma Saja Berdo'a, Tuhan Tak Bakal Mengabulkan...."