Api itu menyala karena dorongan telapak tangan kecilku. Aku terkesima
dan takjub luar biasa. Karena penasaran, aku matikan apinya dan kembali
memejamkan mata, konsentrasi penuh kepada keinginan agar dengan bantuan
Tuhan serpihan kayu itu bisa menyala, kemudian aku hempaskan telapak
tanganku ke arah serpihan kayu seraya melafadzkan basmalah,
“Bismillahirrohmaanirrohim….!!!”
Dan, blarrrr! Api menyala
membakar serpihan kayu seperti membakar kertas koran. Dalam batinku, aku
merasa ternyata aku hebat. Hanya dengan hempasan tangan api bisa
menyala. Segera aku matikan apinya dan mengulangi gerakan seperti di
atas. Ternyata untuk kali ketiga hempasan tanganku tidak mampu
menyalakan api. Lalu aku ulangi, masih belum bisa. Diulangi lagi sampai
kesekian kali, ternyata tidak ada lagi api yang keluar membakar serpihan
kayu.
Peristiwa di atas adalah nyata. Aku masih berumur sembilan
tahun. Ketika itu liburan kenaikan ke kelas empat sekolah dasar.
Kebetulan ada seorang kakak iparku yang bekerja di sebuah bengkel meubel
di daerah Kramat Jati, Jakarta, mengajakku selama dua minggu untuk
jalan-jalan ke ibukota.
Suatu hari aku diajak ke tempatnya
bekerja. Seorang pekerja aku perhatikan sedang berusaha menghidupkan api
untuk membakar dempul. Tapi rupanya sang api tidak kunjung menyala. Dia
pergi mencari ke sudut-sudut bengkel untuk mencari sesuatu yang mudah
menyala.
Iseng aku dekati tumpukan beberapa batu batu yang
dijadikan tungku untuk membakar kaleng bekas yang berisi bahan dempul.
Aku perhatikan beberapa serpihan kayu sedah terbakar sebagian dengan
menyisakan bara kecil. Dan, aku ingat kata ustadxku di madrasah yang
mengatakan bahwa Tuhan itu bid dzonni ‘abdih (Tuhan tergantung dari
persangkaan hamba-Nya).
Apa yang ada di dalam benak seorang bocah
sembilan tahun? Secara naluri, dengan kesederhanaan pemikiran dan
keterbatasan pengalaman sangat mudah baginya untuk meyakini sebuah
asumsi. Apa lagi jika asumsi itu datang dari seseorang yang di mata Sang
Bocah adalah sosok panutan yang harus digugu dan ditiru
Demikianlah,
ketika aku begitu meyakini bahwa Tuhan selaras dengan apa yang aku
pikirkan tentang-Nya, maka aku pun bisa melakukan apa yang ada dalam
pikiranku. Yakni, dengan jalan berdo’a dengan penuh keyakinan bahwa
Tuhan akan mengabulkan apa yang menjadi keinginanku..
Benarkah
demikian? Selalu berdo’akah anda? Apa saja yang anda pinta dalam
do’a-do’a anda? Sedikit evaluasi, dari sekian banyak permintaan dalam
do’a anda coba sebutkan apa saja yang sudah dikabulkan dan apa saja yang
belum dikabulkan. Aku selalu berdo’a setiap waktu. Khususnya setiap
usai salat lima waktu. Banyak permintaan yang aku sampaikan dalam
do’aku. Tapi sejujurnya, aku tidak tahu mana-mana do’a yang sudah
dikabulkan dan yang belum dikabulkan.
Yang aku rasakan adalah
bahwa sangat sering aku mengucapkan do’a dengan pikiran yang tanpa
fokus, serta tanpa keyakinan. Karena ternyata untuk meyakini suatu do’a
yang kita panjatkan adalah sangat tidak gampang. Apa yang ada dalam
pikiranku sekarang sangat berbeda jauh dengan ketika aku masih berumur
sembilan tahun.
Banyak hal yang telah aku lihat, banyak prilaku
yang telah aku perbuat dan banyak pengalaman yang telah melibatkan
kejiwaanku ternyata merubah keadaan mental spiritualku. Harapan-harapan
yang tidak terwujud, keinginan-keinginan yang masih tetap saja menjadi
keinginan serta banyaknya kegagalan yang pernah aku alami, memunculkan
keraguan dalam setiap do’aku.
Bagaimana Tuhan akan mengabulkan
do’aku jika aku sendiri meragukan bahwa Tuhan akan memberi apa yang aku
minta? Kalau begitu, percuma saja aku berdo’a jika tahu do’aku bakal
tidak terkabul…..
Barangkali, anda juga pernah merasakan hal yang
sama bukan? Merasakan sulitnya untuk memiliki keyakinan saat berdo’a,
sehingga do’a anda hanya di mulut seperti orang mengigau. Misalnya,
suatu ketika dalam tidurnya anak anda berteriak-teriak, “Ayah, Ibu….
Ganti channel tivinya, ade mau nonton film kartun….!” Apakah mungkin
anda akan bangun kemudian menyalakan tivi dan mencari acara film kartun?
Terlepas
dari apakah kita bisa atau tidak meyakini dari setiap do’a yang kita
panjatkan, maka sesungguhnya tidak penting apakah Tuhan bakal
mengabulkan atau tidak dari do’a yang kita panjatkan. Karena berdo’a
adalah perintah Tuhan. Dalam sebuah hadist riwayat Tirmidzi, Rasulullah
bersabda, do’a adalah inti ibadah. Sedangkan tujuan Tuhan menciptakan
jin dan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya.
Meski
pun begitu, aku masih sering berkhayal, seandainya mental spiritualku
seperti ketika masih berumur sembilan tahun boleh jadi aku bisa
melakukan apa saja yang ada dalam pikiranku!
0
Percuma Saja Berdo'a, Tuhan Tak Bakal Mengabulkan....
Percuma Saja Berdo'a, Tuhan Tak Bakal Mengabulkan....
Rabu, 16 Mei 2012
| 0 Comments | Email This
Langganan:
Posting Komentar (RSS)

0 Responses to "Percuma Saja Berdo'a, Tuhan Tak Bakal Mengabulkan...."
Posting Komentar