Rabu petang 30 Desember 2009, jutaan kaum nahdliyin seantero nusantara
tak kuasa menahan perginya kehidupan dari jasad KH Abdurahman Wahid.
Kematian datang tak terbendung. Rasa cinta jutaan umat kepada Gus Dur,
bahkan seandainya bisa mungkin ada di antaranya yang rela bertukar
takdir, tapi ajal itu datang menjemput tak tertangguhkan lagi.
Datangnya
maut menghentikan seluruh aktivitas dan keinginanannya di dunia ini.
Baik dalam hal jam’iyah terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya,
partai politik yang didirikannya, urusan kenegaraan, hukum sampai
keinginan menimang bakal cucu yang masih dalam kandungan putrinya.
Tepat
setahun lalu, istriku wafat di pangkuanku. Aku menyaksikan dan
merasakan langsung bagaimana kehidupan raib dari jasad istriku. Semula
telinganya masih mendengar bisikanku yang menuntunnya membaca syahadat..
Aku tahu, sebab aku mendengar suara berat yang keluar dari
tenggorokannya menirukan apa yang aku bisikan. Kemudian bibirnya
bergerak-gerak tanpa suara, matanya meredup, nafasnya menyapu lembut dan
sangat aku rasakan hembusannya untuk terakhir kali.
Besarnya
sayang dan cintaku kepadanya tak mampu menghentikan kehidupannya untuk
pergi meninggalkan aku. Tangisan sanak keluarga tak berarti apa-apa.
Bahkan jeritan gadis kecil satu-satunya putri kesayangan kami yang
memanggil-manggil mamanya tak merubah apa pun jua.
Istriku
meninggal. Kini dia hanya jasad yang terbujur kaku. Tanpa bisa berkedip,
mendengar, merasakan, melenggok, tertawa nakal, merajuk dan fungsi
tubuh lain yang selama belasan tahun aku lihat. Apa yang telah kami
alami bersama hanya bingkai fragmen kenangan.
Kehidupan yang
berlaku dan kita alami bersama tanpa disadari semakin mendekatkan kita
kepada kematian. Pernahkah anda membayangkan saat-saat ajal datang
menjemput? Pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan pasti kita akan
dihampirinya. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Hanya kepada kami kamu dikembalikan. (QS. 29:57).
Ketika
kehidupan terlepas dari tubuh kita, maka lenyaplah semua fungsi tubuh.
Wajah cantik atau ganteng anda tak mempesona lagi, tubuh seksi dan kulit
mulus yang selalu dirawat tak berarti apa-apa. Yang tersisa hanya
onggokan daging dan tulang belulang, yang akan segera di benamkan ke
dalam tanah lembab. Tamat sudah cerita tentang anda.
Suami atau
istri tercinta yang ditinggalkan dengan segera menjadikan anda sebagai
masa lalu. Dia tidak mau terus-menerus larut dalam kesedihan dengan
mengenang anda. Sanak-saudara bahkan anak-anak kesayangan akan
melanjutkan hidup dengan menepis baying-bayang anda. Apa yang terjadi
dengan harta-benda yang sudah anda kumpulkan semasa hidup dengan cucuran
keringat dan air mata? Bagaimana dengan benda-benda kesayangan yang
anda miliki?
Sementara jasad kita membusuk terbenam dalam kubur.
Tubuh kita menjadi sarang bakteri dan serangga, bagian perut memengkak.
Kemudian dari mulut dan hidung keluar buih-buih darah yang meletup oleh
tekanan gas di sekitar diafragma. Rambut rontok habis dan kuku coplok
dari jarii-jari. Jantung, hati dan paru-paru membusuk. Perut pecah
karena tekanan gas di dalamnya sehingga semua isi perut menyemburat
keluar meniupkan bau busuk yang teramat sangat. Wajah rupawan dan tubuh
seksi anda berakhir dalam wujud kerangka saja.
Betapa kematian
itu pasti dan misteri. Tak perduli siapa anda, siapa aku. Kematian orang
lain yang pernah kita lihat adalah pelajaran berharga bagi kita yang
masih punya sisa usia.
0
Antara Kau, Gus Dur, Istriku dan Aku
Antara Kau, Gus Dur, Istriku dan Aku
Rabu, 16 Mei 2012
| 0 Comments | Email This
Langganan:
Posting Komentar (RSS)

0 Responses to "Antara Kau, Gus Dur, Istriku dan Aku"
Posting Komentar