0

Antara Kau, Gus Dur, Istriku dan Aku

Rabu, 16 Mei 2012

Rabu petang 30 Desember 2009, jutaan kaum nahdliyin seantero nusantara tak kuasa menahan perginya kehidupan dari jasad KH Abdurahman Wahid. Kematian datang tak terbendung. Rasa cinta jutaan umat kepada Gus Dur, bahkan seandainya bisa mungkin ada di antaranya yang rela bertukar takdir, tapi ajal itu datang menjemput tak tertangguhkan lagi.

Datangnya maut menghentikan seluruh aktivitas dan keinginanannya di dunia ini. Baik dalam hal jam’iyah terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya, partai politik yang didirikannya, urusan kenegaraan, hukum sampai keinginan menimang bakal cucu yang masih dalam kandungan putrinya.

Tepat setahun lalu, istriku wafat di pangkuanku. Aku menyaksikan dan merasakan langsung bagaimana kehidupan raib dari jasad istriku. Semula telinganya masih mendengar bisikanku yang menuntunnya membaca syahadat.. Aku tahu, sebab aku mendengar suara berat yang keluar dari tenggorokannya menirukan apa yang aku bisikan. Kemudian bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, matanya meredup, nafasnya menyapu lembut dan sangat aku rasakan hembusannya untuk terakhir kali.

Besarnya sayang dan cintaku kepadanya tak mampu menghentikan kehidupannya untuk pergi meninggalkan aku. Tangisan sanak keluarga tak berarti apa-apa. Bahkan jeritan gadis kecil satu-satunya putri kesayangan kami yang memanggil-manggil mamanya tak merubah apa pun jua.

Istriku meninggal. Kini dia hanya jasad yang terbujur kaku. Tanpa bisa berkedip, mendengar, merasakan, melenggok, tertawa nakal, merajuk dan fungsi tubuh lain yang selama belasan tahun aku lihat. Apa yang telah kami alami bersama hanya bingkai fragmen kenangan.

Kehidupan yang berlaku dan kita alami bersama tanpa disadari semakin mendekatkan kita kepada kematian. Pernahkah anda membayangkan saat-saat ajal datang menjemput? Pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan pasti kita akan dihampirinya. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Hanya kepada kami kamu dikembalikan. (QS. 29:57).

Ketika kehidupan terlepas dari tubuh kita, maka lenyaplah semua fungsi tubuh. Wajah cantik atau ganteng anda tak mempesona lagi, tubuh seksi dan kulit mulus yang selalu dirawat tak berarti apa-apa. Yang tersisa hanya onggokan daging dan tulang belulang, yang akan segera di benamkan ke dalam tanah lembab. Tamat sudah cerita tentang anda.

Suami atau istri tercinta yang ditinggalkan dengan segera menjadikan anda sebagai masa lalu. Dia tidak mau terus-menerus larut dalam kesedihan dengan mengenang anda. Sanak-saudara bahkan anak-anak kesayangan akan melanjutkan hidup dengan menepis baying-bayang anda. Apa yang terjadi dengan harta-benda yang sudah anda kumpulkan semasa hidup dengan cucuran keringat dan air mata? Bagaimana dengan benda-benda kesayangan yang anda miliki?

Sementara jasad kita membusuk terbenam dalam kubur. Tubuh kita menjadi sarang bakteri dan serangga, bagian perut memengkak. Kemudian dari mulut dan hidung keluar buih-buih darah yang meletup oleh tekanan gas di sekitar diafragma. Rambut rontok habis dan kuku coplok dari jarii-jari. Jantung, hati dan paru-paru membusuk. Perut pecah karena tekanan gas di dalamnya sehingga semua isi perut menyemburat keluar meniupkan bau busuk yang teramat sangat. Wajah rupawan dan tubuh seksi anda berakhir dalam wujud kerangka saja.

Betapa kematian itu pasti dan misteri. Tak perduli siapa anda, siapa aku. Kematian orang lain yang pernah kita lihat adalah pelajaran berharga bagi kita yang masih punya sisa usia.

0 Responses to "Antara Kau, Gus Dur, Istriku dan Aku"