Dulkamid, Dulkamid.....jare aku wong sampeyan wis wayah mambu lemah ora usah macem-macem. Nang umah bae ora usah pladangan maring ndi-ndi ora. Nyong sebagai pengasuhe kayong ngrasakena mopo nemen
Mentang-mentang cekel duit sendiri, Kaki Dulkamid karepe plesiran bae. Nah, sekarang Dulkamid nguja plesiran naik kapal laut nyebrang pulau. Di kapal yang dinaiki Dulkamid, terdapat serombiongan keluarga yang terdiri dari kakek nenek, bapak ibu, paman bibi juga anak-anak.
Karena berjumlah banyak, justru mereka kurang kontrol terhadap anggota keluarganya.. Sampai-sampai mereka tidak menyadari ketika seorang anak laki-laki berusia 5 tahun, salah seorang anggota keluarga mereka, krekelan bibir kapal kemudian terperosok dan nyemplung ke laut. Ibu si anak belum apa-apa seduprak terus pingsan. Bapaknya juga tidak punya nyali untuk menyelamatkan anaknya yang sudah terombang-ambing ombak. Tangan kecilnya hanya sesekali terlihat menggapai-gapai.
Tak seorang pun dari keluarga dan saudaaranya yang berani mengambil tidakan. Penumpang lain hanya tertegun. Kaki Dulkamid cuma bengong. Sesekali mulutnya yang berbibir hitam karena banyak ngrokok itu komat-komat. Mbuh jawale maca apa. Jangan-jangan teks proklamasi sing diwaca? soale deweke kan bodo, alif bengkok be ora ngarti. Sampeyan ngarti, Wa?
Suasana bertambah heboh dengan teriakan histeris dari orang-orang yang ada di kapal, ketika dari jarak tidak begitu jauh terlihat tanda-tanda seekor ikan hiu datang mendekati bocah laki-laki itu. " Aduh, kulup, kulup! kowen ka apes temen.......!!!" jerit neneknya .
Ayah dan kakek si bocah hanya berlari ke sana ke mari meminta pertolongan kepada semua orang yang ada di kapal. "Ayuh Mas, dituluingi, ditulungi! Mumpung hiune esih adoh. Ditulungi, ditulungi!!!" teriak mereka. Tapi tidak seorang pun yang bergeming.
Di saat yang begitu genting,, tiba-tiba seseorang dengan gagah berani terjun ke laut. Byur....!!! Lalu dengan sigapnya dia menarik si bocah ke dekat kapal, diiringi teriakan semua orang karena ikan hiu itu sudah sangat dekat. Orang-orang dengan serta merta melemparkan tambang dan menarik si penolong dan si bocah ke atas kapal.
Ketika sampai di atas kapal, semua orang terhenyak. karena sang penolongnya adalah seorang kakek-kakek, peot, dekil dan mukanya keruh. Ajibnya lagi, dia tak lain adalah Kaki Dulkamid. Ya Kaki Dulkamid ceteme ente, Wa Wuih, nyong ngrasakna bangga. Sebagai pengasuhe Dulkamid, nyong deleng jebule deweke nduwe jiwa kepahlawanan yang luar biasa. (Kiye nyong ngetike karo gedeg-gedeg, sung!)
Kaki Dulkamid langsung dirubung wong-wong. Watuke ngikil kaya kikile ruimah makan padang. Maklum ndean kakean ngeleg banyu segara. Bapa karo ibune bocah langsung mburu Dulkamid. "Makasih, ya Mbah. Makasih banyak, Mbah!" ujar suami istri itu.
Ajibe Dulkamid malah dugal."Mbah, mbah dengkulmu koplak! " sungut Dulkamid murka.
"Sih bisane dugal, Mbah?"
"Om!!!"
"Ya wis, terima kasih ya, Om."
"Om Dulkamid!"
"Iya, Om Dulkamid! Terima kasih, Om Dulkamid. Sebagai tanda terima kasihe nyong sakeluarga, sampaeyan pan jaluk apa?"
"Ora!"
"Duit, apa motor?"
"Duit aku nduwe akeh. Motor tiger be nduwe kuh!"
"Sih sampeyan pan jaluk apa?"
Nenek si bocah yang sedari tadi cuma diam, ikut menimpali. "Mbokan sampaeyan karep bojo ya aku nduwe anak wadon randa sing umure nembe umur 50 tahun. Sampeyan gelem?
"Bwah, bwah! Najis tralala! Nyai-nyai sih pan kanggo apa. Belih! Nyong belih gelem!"
"Sih sampeyan pan jaluk apa?" tanya Bapane bocah sudah gak sabar.
"Nyong kur pan takon!" kata Dulkamid. Orang-orang pada saling berpandangan.
"Takon apa?"
"Mau sing njorogna nyong sapa?" kata Dulkamid dengan sangat emosi. Sampe-sampe dadanya menggeh-menggeh nahan amarah.
Walah Wa, Wa..... tak kira sampeyan hero jebule kodok nyemplung kali.
Mentang-mentang cekel duit sendiri, Kaki Dulkamid karepe plesiran bae. Nah, sekarang Dulkamid nguja plesiran naik kapal laut nyebrang pulau. Di kapal yang dinaiki Dulkamid, terdapat serombiongan keluarga yang terdiri dari kakek nenek, bapak ibu, paman bibi juga anak-anak.
Karena berjumlah banyak, justru mereka kurang kontrol terhadap anggota keluarganya.. Sampai-sampai mereka tidak menyadari ketika seorang anak laki-laki berusia 5 tahun, salah seorang anggota keluarga mereka, krekelan bibir kapal kemudian terperosok dan nyemplung ke laut. Ibu si anak belum apa-apa seduprak terus pingsan. Bapaknya juga tidak punya nyali untuk menyelamatkan anaknya yang sudah terombang-ambing ombak. Tangan kecilnya hanya sesekali terlihat menggapai-gapai.
Tak seorang pun dari keluarga dan saudaaranya yang berani mengambil tidakan. Penumpang lain hanya tertegun. Kaki Dulkamid cuma bengong. Sesekali mulutnya yang berbibir hitam karena banyak ngrokok itu komat-komat. Mbuh jawale maca apa. Jangan-jangan teks proklamasi sing diwaca? soale deweke kan bodo, alif bengkok be ora ngarti. Sampeyan ngarti, Wa?
Suasana bertambah heboh dengan teriakan histeris dari orang-orang yang ada di kapal, ketika dari jarak tidak begitu jauh terlihat tanda-tanda seekor ikan hiu datang mendekati bocah laki-laki itu. " Aduh, kulup, kulup! kowen ka apes temen.......!!!" jerit neneknya .
Ayah dan kakek si bocah hanya berlari ke sana ke mari meminta pertolongan kepada semua orang yang ada di kapal. "Ayuh Mas, dituluingi, ditulungi! Mumpung hiune esih adoh. Ditulungi, ditulungi!!!" teriak mereka. Tapi tidak seorang pun yang bergeming.
Di saat yang begitu genting,, tiba-tiba seseorang dengan gagah berani terjun ke laut. Byur....!!! Lalu dengan sigapnya dia menarik si bocah ke dekat kapal, diiringi teriakan semua orang karena ikan hiu itu sudah sangat dekat. Orang-orang dengan serta merta melemparkan tambang dan menarik si penolong dan si bocah ke atas kapal.
Ketika sampai di atas kapal, semua orang terhenyak. karena sang penolongnya adalah seorang kakek-kakek, peot, dekil dan mukanya keruh. Ajibnya lagi, dia tak lain adalah Kaki Dulkamid. Ya Kaki Dulkamid ceteme ente, Wa Wuih, nyong ngrasakna bangga. Sebagai pengasuhe Dulkamid, nyong deleng jebule deweke nduwe jiwa kepahlawanan yang luar biasa. (Kiye nyong ngetike karo gedeg-gedeg, sung!)
Kaki Dulkamid langsung dirubung wong-wong. Watuke ngikil kaya kikile ruimah makan padang. Maklum ndean kakean ngeleg banyu segara. Bapa karo ibune bocah langsung mburu Dulkamid. "Makasih, ya Mbah. Makasih banyak, Mbah!" ujar suami istri itu.
Ajibe Dulkamid malah dugal."Mbah, mbah dengkulmu koplak! " sungut Dulkamid murka.
"Sih bisane dugal, Mbah?"
"Om!!!"
"Ya wis, terima kasih ya, Om."
"Om Dulkamid!"
"Iya, Om Dulkamid! Terima kasih, Om Dulkamid. Sebagai tanda terima kasihe nyong sakeluarga, sampaeyan pan jaluk apa?"
"Ora!"
"Duit, apa motor?"
"Duit aku nduwe akeh. Motor tiger be nduwe kuh!"
"Sih sampeyan pan jaluk apa?"
Nenek si bocah yang sedari tadi cuma diam, ikut menimpali. "Mbokan sampaeyan karep bojo ya aku nduwe anak wadon randa sing umure nembe umur 50 tahun. Sampeyan gelem?
"Bwah, bwah! Najis tralala! Nyai-nyai sih pan kanggo apa. Belih! Nyong belih gelem!"
"Sih sampeyan pan jaluk apa?" tanya Bapane bocah sudah gak sabar.
"Nyong kur pan takon!" kata Dulkamid. Orang-orang pada saling berpandangan.
"Takon apa?"
"Mau sing njorogna nyong sapa?" kata Dulkamid dengan sangat emosi. Sampe-sampe dadanya menggeh-menggeh nahan amarah.
Walah Wa, Wa..... tak kira sampeyan hero jebule kodok nyemplung kali.

0 Responses to "anekdot tegalan : Dulkamid Show 7"
Posting Komentar