0
Lair, Lair....Lair! bag. 2 (Habis)
Di sebuah ruangan ber-AC, yang AC-nya mati, di atas tempat tidur selebar 60 cm yang berdesak-desakan dengan 3 buah tempat tidur serupa babak baru yang mencekam dimulai. Sekitar 5 atau 6 gadis muda berseragam putih-putih sigap menangani istriku yang menjadi satu-satunya pasien di ruangan itu. Dokter Pantjer Budhi Walujo Sp.OG (K), satu-satunya dokter sekaligus pemilik klinik bersalin itu sesekali melihat dan mengawasi anak buahnya bekerja.
Mereka, bidan-bidan muda berseragam putih itu, terlihat sangat cakap. Setelah observasi, mereka membuat catatan-catatan, menghitung denyut nadi bayi dengan corong yang ditempelkan diperut istriku dan diindera dengan menempelkan kupingnya rapat-rapat. Sesaat setelah dilakukan observasi aku dibuat kaget dan bingung lagi. Katanya baru bukaan 5 atau 6. Duh, aduh kok bisa begitu sih?
Tangan kiri istriku dicoblos jarum yang dihubungkan dengan selang ke botol infus. Katanya berisi obat pemacu. Larutan sakti yang bisa memacu kontraksi agar intervalnya lebih kenceng. Hanya berselang beberapa detik kemudian istriku mulai mengerang, merintih, menjerit dan meliuk-liukan badannya. Aku sendiri hanya bisa mendekap kepalanya sambil membisikan bacaan-bacaan doa apa pun yang aku hafal.
Tegang dan mencekam. Aku pejamkan rapat-rapat mataku. Tak kuasa melihat istriku meliuk-liuk kesakitan, tak kuasa mendengar jeritan dan erangan yang menyayat-yayat. Ya Rob, ya Robbi............... pangapunten dosa-dosa kulo lan estri kulo....!
Ternyata suasana tegang mencekam hanya dirasakan aku dan istriku. Kenyataan mereka para bidan muda nampak santai, ngobrol bahkan bersendau gurau.... Aku jengkel dan panik. Mbok yao ikut menunjukan prihatin gitu lho! Aku hanya merutuk dalam hati. Hingga akhirnya setelah dilakukan obeservasi jalan lahir yang entah ke berapa kalinya, dinyatakan bukaannya sudah lengkap. Ini benar kan, betul? Tidak pakai mundur-mundur lagi?
Sekarang istriku menempati posisi siap melahirkan anakku. Bismillahirohmaanirohiim..... bismillaahirohmaanirrohiimm seribu kali! Kini saatnya engkau berjihad istriku!
"Ngeden, ngeden yang kuat, Bu!"
"Ayo Bu, ulangi lagi! Ngeden di bagian bawah, jangan di leher...."
'Terus Bu, terus paksa keluar!"
"Ayo Bu, dorong dengan marah....!"
Para bidan muda kasih komando. Istriku kelimpungan. Erangan, jeritan dan tangisannya tambah menghebat. Hamalathu ummuhuu wahnan ala wahnin! Entah apa yang aku lakukan saat itu. Tak kuasa, tak tega, tak mampu berbuat apa. Sekuat apa pun istriku ngeden perut mblenduknya seperti tak bergeming. "Kalo sampai satu jam belum lahir terpaksa divacuum, Bu. Ayo Bu, dorong yang kuat. Eman-eman biar gak sampai divacuum, " ujar salah seorang bidan.
Kepanikan, kepiluan kian menjadi. Jerit tangis dan rintihan istriku betul-betul sudah ambrol-brol. Istriku lunglai. Nafasnya menyengal lemah, nyaris tanpa daya. Sementara aku pun sudah sampai titik nadir. Tak bisa mengucap kata, otakku pun seperti mati rasa. Tak tergambar kecemasan dan kepanikan yang aku rasakan. Tapi aku juga marah. Marah yang sangat kepada para bidan muda itu. Di tengah penderitaan dan jerit tangis istriku yang dahsyat, kenapa mereka malah ketawa-tawa, bercanda, ngomongin pesbuk bahkan ngobrolin cowok!
Mbok yao, ada empati dikit gitu lo! Pengin banget aku remas wajah-wajah cekikikan itu. Pengin aku tarik mukanya dan aku teriakan fuck you, fuck you, fuck you....seribu kali.
Akhirnya waktu satu jam berlalu. Perjuangan hidup mati istriku belum membuahkan hasil. Aku pasrah. Aku melihat mereka mempersiapkan peralatan-peralatan untuk vacuum. Anakku akan ditarik paksa. Tapi katanya alat itu hanya menahan, tetap istriku yang harus mendorongnya keluar. Ya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Aku perhatikan wajah istriku. Begitu tanpa daya dan menyerah. Aku cium keningnya. Aku seka keringatnya pelan-pelan. Sumpah, jujur sejujurnya aku baru kali ini merasakan getaran cinta yang dahsyat kepada istriku. Di telinganya aku bisikan ayat ke 78 dari surat an-nahl : Wallaahu akhrojakum min buthuuni ummahaatikum, laa ta'lamuuna syai'an waja'ala lakumus sam'a wal af idata la'allakum tasykuruun!
Dokter Pantjer masuk ke ruang persalinan. Katanya, jika sampai empat kali dorongan belum lahir juga maka harus caesar. Apa pun lah! Aku siap dengan kepasrahanku. Istriku mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang sudah terkuras hampir selama 18 jam!
Bismillahirohmaanirohim!
Istriku menjerit, meraung ..... Pak Dokter memberi komando, "terus, terus....!"
Terhenti sejenak. Aku betul-betul lupa diri. Hingga diulang dorongan yang kedua. "Ayo, hampir, hampir....!" teriak mereka meningkahi raungan dan jeritan istriku yang ambrol-brol.
Sesaat hening. Istriku kehabisan tenaga. Pak Dokter dan para bidan seperti terpana. "Ayo Bu, sekali lagi, sekali lagi!"
Tiba-tiba Pak Dokter berteriak keras. Keras sekali. "Terus dorong, dorong............ Lair! Lair! Lair!"
Tangisan istriku kembali ambrol-brol. Sekilas aku melihat Pak Dokter mengangkat seorang bayi merah yang mungil. Aku pun langsung ambruk-bruk. Beribu-ribu syukur aku ucapkan kepada Tuhan dalam sujudku.
Subhanallah! Jam 23.15 aku mempunyai seorang bayi laki-laki sangat tampan, normal dan sehat. Alhamdulillah, alhamdulillahi robbil 'alamin! Terima kasih Pak Dokter. Terima kasih para bidan muda. Maaf kalo aku tadi terlintas pikiran jahat kepada kalian.
Kini, Putriku, Putri Salsabila Adha Insany punya adik. Aku dan istriku memberi nama putraku dengan nama yang sangat indah: Khalfani Zeroun Firjatullah Pranaja. Semoga Allah mengabulkan tafa'ulan kami dengan limpahan berkah dari makna nama putraku. Terima kasih, terima kasih ya Rob.
Semoga ceritaku ini bermanfaat untuk anda calon ibu dan ayah.
Lair, Lair....Lair! bag. 2 (Habis)
Rabu, 16 Mei 2012
Di sebuah ruangan ber-AC, yang AC-nya mati, di atas tempat tidur selebar 60 cm yang berdesak-desakan dengan 3 buah tempat tidur serupa babak baru yang mencekam dimulai. Sekitar 5 atau 6 gadis muda berseragam putih-putih sigap menangani istriku yang menjadi satu-satunya pasien di ruangan itu. Dokter Pantjer Budhi Walujo Sp.OG (K), satu-satunya dokter sekaligus pemilik klinik bersalin itu sesekali melihat dan mengawasi anak buahnya bekerja.
Mereka, bidan-bidan muda berseragam putih itu, terlihat sangat cakap. Setelah observasi, mereka membuat catatan-catatan, menghitung denyut nadi bayi dengan corong yang ditempelkan diperut istriku dan diindera dengan menempelkan kupingnya rapat-rapat. Sesaat setelah dilakukan observasi aku dibuat kaget dan bingung lagi. Katanya baru bukaan 5 atau 6. Duh, aduh kok bisa begitu sih?
Tangan kiri istriku dicoblos jarum yang dihubungkan dengan selang ke botol infus. Katanya berisi obat pemacu. Larutan sakti yang bisa memacu kontraksi agar intervalnya lebih kenceng. Hanya berselang beberapa detik kemudian istriku mulai mengerang, merintih, menjerit dan meliuk-liukan badannya. Aku sendiri hanya bisa mendekap kepalanya sambil membisikan bacaan-bacaan doa apa pun yang aku hafal.
Tegang dan mencekam. Aku pejamkan rapat-rapat mataku. Tak kuasa melihat istriku meliuk-liuk kesakitan, tak kuasa mendengar jeritan dan erangan yang menyayat-yayat. Ya Rob, ya Robbi............... pangapunten dosa-dosa kulo lan estri kulo....!
Ternyata suasana tegang mencekam hanya dirasakan aku dan istriku. Kenyataan mereka para bidan muda nampak santai, ngobrol bahkan bersendau gurau.... Aku jengkel dan panik. Mbok yao ikut menunjukan prihatin gitu lho! Aku hanya merutuk dalam hati. Hingga akhirnya setelah dilakukan obeservasi jalan lahir yang entah ke berapa kalinya, dinyatakan bukaannya sudah lengkap. Ini benar kan, betul? Tidak pakai mundur-mundur lagi?
Sekarang istriku menempati posisi siap melahirkan anakku. Bismillahirohmaanirohiim..... bismillaahirohmaanirrohiimm seribu kali! Kini saatnya engkau berjihad istriku!
"Ngeden, ngeden yang kuat, Bu!"
"Ayo Bu, ulangi lagi! Ngeden di bagian bawah, jangan di leher...."
'Terus Bu, terus paksa keluar!"
"Ayo Bu, dorong dengan marah....!"
Para bidan muda kasih komando. Istriku kelimpungan. Erangan, jeritan dan tangisannya tambah menghebat. Hamalathu ummuhuu wahnan ala wahnin! Entah apa yang aku lakukan saat itu. Tak kuasa, tak tega, tak mampu berbuat apa. Sekuat apa pun istriku ngeden perut mblenduknya seperti tak bergeming. "Kalo sampai satu jam belum lahir terpaksa divacuum, Bu. Ayo Bu, dorong yang kuat. Eman-eman biar gak sampai divacuum, " ujar salah seorang bidan.
Kepanikan, kepiluan kian menjadi. Jerit tangis dan rintihan istriku betul-betul sudah ambrol-brol. Istriku lunglai. Nafasnya menyengal lemah, nyaris tanpa daya. Sementara aku pun sudah sampai titik nadir. Tak bisa mengucap kata, otakku pun seperti mati rasa. Tak tergambar kecemasan dan kepanikan yang aku rasakan. Tapi aku juga marah. Marah yang sangat kepada para bidan muda itu. Di tengah penderitaan dan jerit tangis istriku yang dahsyat, kenapa mereka malah ketawa-tawa, bercanda, ngomongin pesbuk bahkan ngobrolin cowok!
Mbok yao, ada empati dikit gitu lo! Pengin banget aku remas wajah-wajah cekikikan itu. Pengin aku tarik mukanya dan aku teriakan fuck you, fuck you, fuck you....seribu kali.
Akhirnya waktu satu jam berlalu. Perjuangan hidup mati istriku belum membuahkan hasil. Aku pasrah. Aku melihat mereka mempersiapkan peralatan-peralatan untuk vacuum. Anakku akan ditarik paksa. Tapi katanya alat itu hanya menahan, tetap istriku yang harus mendorongnya keluar. Ya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Aku perhatikan wajah istriku. Begitu tanpa daya dan menyerah. Aku cium keningnya. Aku seka keringatnya pelan-pelan. Sumpah, jujur sejujurnya aku baru kali ini merasakan getaran cinta yang dahsyat kepada istriku. Di telinganya aku bisikan ayat ke 78 dari surat an-nahl : Wallaahu akhrojakum min buthuuni ummahaatikum, laa ta'lamuuna syai'an waja'ala lakumus sam'a wal af idata la'allakum tasykuruun!
Dokter Pantjer masuk ke ruang persalinan. Katanya, jika sampai empat kali dorongan belum lahir juga maka harus caesar. Apa pun lah! Aku siap dengan kepasrahanku. Istriku mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang sudah terkuras hampir selama 18 jam!
Bismillahirohmaanirohim!
Istriku menjerit, meraung ..... Pak Dokter memberi komando, "terus, terus....!"
Terhenti sejenak. Aku betul-betul lupa diri. Hingga diulang dorongan yang kedua. "Ayo, hampir, hampir....!" teriak mereka meningkahi raungan dan jeritan istriku yang ambrol-brol.
Sesaat hening. Istriku kehabisan tenaga. Pak Dokter dan para bidan seperti terpana. "Ayo Bu, sekali lagi, sekali lagi!"
Tiba-tiba Pak Dokter berteriak keras. Keras sekali. "Terus dorong, dorong............ Lair! Lair! Lair!"
Tangisan istriku kembali ambrol-brol. Sekilas aku melihat Pak Dokter mengangkat seorang bayi merah yang mungil. Aku pun langsung ambruk-bruk. Beribu-ribu syukur aku ucapkan kepada Tuhan dalam sujudku.
Subhanallah! Jam 23.15 aku mempunyai seorang bayi laki-laki sangat tampan, normal dan sehat. Alhamdulillah, alhamdulillahi robbil 'alamin! Terima kasih Pak Dokter. Terima kasih para bidan muda. Maaf kalo aku tadi terlintas pikiran jahat kepada kalian.
Kini, Putriku, Putri Salsabila Adha Insany punya adik. Aku dan istriku memberi nama putraku dengan nama yang sangat indah: Khalfani Zeroun Firjatullah Pranaja. Semoga Allah mengabulkan tafa'ulan kami dengan limpahan berkah dari makna nama putraku. Terima kasih, terima kasih ya Rob.
Semoga ceritaku ini bermanfaat untuk anda calon ibu dan ayah.
| 0 Comments | Email This
Langganan:
Posting Komentar (RSS)

0 Responses to "Lair, Lair....Lair! bag. 2 (Habis)"
Posting Komentar