Siang-siang Dulkamid berkunjung ke padepokan Kiai Shomad. Suasananya
lengang, karena sebagian besar penghuni padepokan tengah khoilulah
menjelang salat dhuhur. Meskipun suasana panas berkeringat, Kiai Shomad
menyambutnya dengan ramah dan bersahabat,
"Alhamdulillah, kedatangan tamu agung. Apa kabar, Mbah?" sapa Sang Kiai ceria.
"Baik, Pak Kiai." Dulkamid duduk bersilah di atas karpet tebal berwarna merah yang ada gambar bunga-bunga berhadapan dengan Kiai Shomad. "Pak Kiai, saya mempunyai dua pertanyaan."
Sejenak pembiacaraan Dulkamid terhenti ketika seorang santri keluar menyuguhkan teh dengan sepiring jadah yang dipotong-potong dadu. "Silahkan, Mbah diunjuk tehnya," ujar Kiai.
"Iya, Pak Kiai. Terima kasih," jawab Dulkamid sambil nyruput teh hangat yang membuat badannya makin berkeringat. Diambilnya sepotong jadah, dikunyahnya pelan-pelan. Kemudian lanjutnya, "Kata Pak Kiai, bukti Allah itu ada adalah adanya alam semesta yang merupakan ciptaan-Nya."
"Betul, betul itu Mbah," jawab Kiai Shomad dengan wajah serius.
"Lalu ketika alam semesta ini belum Allah ciptakan, apa yang menjadi bukti jika Allah itu ada?"
Kiai Shomad tercenung. Tatapan matanya lembut seperti takjub dengan pertanyaan Dulkamid yang nyleneh.
Dulkamid masih melanjutkan pertanyaannya, "Dan kalau alam semesta ini tidak ada, apa yang bisa menjadi bukti keberadaan Allah, Pak Kiai?"
Kiai Shomad manggut-manggut. "Silahkan dilanjutkan, Mbah," katanya.
"Saya berpendapat, berarti keberadaan Allah itu bergantung kepada keberadaan alam semesta ini," kata Dulkamid bersemangat. "Sebab Allah ada karena alam semesta ini ada, dan jika alam semesta ini tidak ada maka Allah pun tidak ada."
Kiai Shomad diam tercenung. Diambilnya sepotong jadah dan mengunyahnya. Kemudian katanya, "Mbah, nuwun sewu, saya ini orang bodoh. Pertanyaan sampeyan di luar kemampuan otak saya. Akal pikiran saya mung sak dermo."
Wajah Dulkamid berubah muram. Kepalanya menunduk yang membuat punggungnya yang sudah bungkuk semakin bungkuk. "Tapi Pak Kiai....." katanya ragu.
Melihat sikap Dulkamid yang murung, Kiai Shomad tersenyum arif. Katanya, "Mbah, saya kira tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan sampeyan. Apa lagi orang seperti Shomad ini yang ilmunya pas-pasan. Pembahasan tentang adanya Allah hanya bisa dijawab dengan dalil-dalil. Baik dalil aqli, maupun dalil naqli."
"Maksud Pak Kiai?"
"Begini, mengapa prang meyakini adanya Tuhan, karena penggunaan dalil aqli dan dalil naqli tersebut."
"Apa itu dalil aqlinya bahwa Allah itu ada?" tanya Dulkamid tidak sabar.
"Alam tempat kita hidup beserta gejala-gejalanya yang bisa kita lihat dan kita sentuh tidak mungkin ada tanpa adanya Sang Maha Ada yang menciptakannya. Sangat menakjubkan desain dunia tempat kita hidup. Detailnya juga tidak bisa dijangkau dengan otak manusia. Bumi yang kita tinggali ini ternyata hanya seperti sebutir debu saja di bandingkan jagat raya ciptaan Tuhan. Ada matahari yang keliling lingkarannya ratusan kali lipat panjang keliling bumi. Matahari dengan 8 planetnya tergabung ke dalam galaksi bima sakti yang panjangnya 100 ribu tahun kecepatan cahaya. Padahal kecepatan cahaya adalah 300.000 kilometer perdetik. Selain matahari dan planet-planetnya ada 100 milyar bintang lainnya yang tergabung dalam galaksi bima sakti."
Kiai Shomad berhentiu sejenak, minum teh. Diamatinya Dulkamid yang nampak serius mendengarkan paparannya. Kemudian katanya, "Sampeyan tahu apa itu galaksi bima sakti?"
Dulkamid hanya geleng-gelleng kepala.
''Galaksi bima sakti itu hanya satu dari ribuan galaksi serupa yang tergabung dalam satu cluster. Cluster-cluster yang berjumlah ribuan tergabung lagi membentuk super cluster dan akhirnya dari ribuan super cluster membentuk jagat raya ini."
Dulkamid manggut-manggut.
"Nah Mbah, kalau bumi yang dihuni sekitar 8 milyar umat manusia ini hanya seperti debu di banding jagat raya, apalah arti seorang Shomad ini, tak terhingga kecil dan remehnya. Inilah dalil aqli atau logikanya mengapa Tuhan itu ada. Tidak masuk akal kan Mbah, jika jagat raya yang sangat dahsyat ini tak ada yang membuat dan mengaturnya?"
"Ehm..., dalil naqli itu apa Pak Kiai?" tanya Dulkamid.
"Dalil naqli itu keterangan-keterangan yang disampaikan oleh para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia terpilih yang diamanati Allah untuk menjadi nabi atau rasul. Allah menyampaikan perintah-perintah untuk dijalankan umat manusia melalui wahyu yang disampaikan kepada para rasul dan nabi-Nya. Dalam al qur'an surat al-furqon ayat 61 Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang menciptakan jagat raya ini. Artinya begini, Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya."
"Tapi Pak Kiai....tentang dua pertanyaan saya tadi?"
"Pertanyaan yang mana?"
"Pertanyaan apa bukti adanya Allah sebelum jagat raya ini diciptakan, dan seandainya jagat raya ini tida ada apa berarti Allah juga tidak ada?"
Wajah Pak Kiai seperti orang kebingungan. "Iya, saya ingat pertanyaan sampeyan itu. Tapi mana? Bisakah sampeyan tunjukan pada saya biar aku raba pertanyaan itu?"
Kini Dulkamid yang nampak kebingungan. "Maksud Pak Kiai?"
"Sampeyan bilang punya dua pertanyaan? Mana? Tolong tunjukan padaku agar bisa aku raba?"
Dulkamid tertawa terkekeh-kekeh. "Pak Kiai bisa aja, masa kata-kata bisa diraba?"
"Tapi sampeyan percaya tidak kalau pertanyaan itu ada?"
"Ya percaya dong, Pak Kiai."
"Walau pun tidak bisa dipegang?"
"Iya."
Kiai Shomad manggut-manggut. "Itulah Allah. Dia tidak bisa dicerna dengan indera apa pun yang dimiliki manusia. Apa lagi otak kita yang tak terhingga kecil dan remehnya. Pertanyaan itu hanya rekayasa otak sampeyan saja. Jika mahluk Allah saja banyak yang immateri, tak tersentuh indera, kenapa sampeyan merekayasa Allah dalam bentuk fisik?"
"Kulo dereng mudeng Pak Kiai...."
Kiai Shomad bergumam. Dan, plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dulkamid. Dulkamid menjerit kesakitan.
"Kenapa?" tanya Kiai Shomad dengan mimik heran.
"Kenapa menampar saya? Sakit....," kata Dulkamid sambil meringis.
"Sakit? Mana sakit? Aku tak melihat ada sakit?"
"Ini pipi saya sakit," kata Dulkamid.
"Tapi saya tidak melihat ada sakit di pipi sampeyan," kata Kiai Shomad serius.
Dulkamid yang kesakitan juga keheranan.
WARNING
Dulkamid hanyalah tokoh fiktif rekaan penulis semata. Kesamaan nama, tempat dan peristiwa sungguh tanpa adanya unsur kesengajaan. Intisari cerita dari episode ini sebagian adalah rekaan penulis dan sebagian lain mengambil dari kitab-kitab klasik, dengan tanpa maksud tertentu kecuali untuk ziyadatul khoir dari Sebuah hikmah. Karena kebodohan penulis saja sehingga judul kitabnya tidak bisa dituliS di sini. Mohon korekSi dari dari para alim dan ahli sekalian. Terima kasih.
"Alhamdulillah, kedatangan tamu agung. Apa kabar, Mbah?" sapa Sang Kiai ceria.
"Baik, Pak Kiai." Dulkamid duduk bersilah di atas karpet tebal berwarna merah yang ada gambar bunga-bunga berhadapan dengan Kiai Shomad. "Pak Kiai, saya mempunyai dua pertanyaan."
Sejenak pembiacaraan Dulkamid terhenti ketika seorang santri keluar menyuguhkan teh dengan sepiring jadah yang dipotong-potong dadu. "Silahkan, Mbah diunjuk tehnya," ujar Kiai.
"Iya, Pak Kiai. Terima kasih," jawab Dulkamid sambil nyruput teh hangat yang membuat badannya makin berkeringat. Diambilnya sepotong jadah, dikunyahnya pelan-pelan. Kemudian lanjutnya, "Kata Pak Kiai, bukti Allah itu ada adalah adanya alam semesta yang merupakan ciptaan-Nya."
"Betul, betul itu Mbah," jawab Kiai Shomad dengan wajah serius.
"Lalu ketika alam semesta ini belum Allah ciptakan, apa yang menjadi bukti jika Allah itu ada?"
Kiai Shomad tercenung. Tatapan matanya lembut seperti takjub dengan pertanyaan Dulkamid yang nyleneh.
Dulkamid masih melanjutkan pertanyaannya, "Dan kalau alam semesta ini tidak ada, apa yang bisa menjadi bukti keberadaan Allah, Pak Kiai?"
Kiai Shomad manggut-manggut. "Silahkan dilanjutkan, Mbah," katanya.
"Saya berpendapat, berarti keberadaan Allah itu bergantung kepada keberadaan alam semesta ini," kata Dulkamid bersemangat. "Sebab Allah ada karena alam semesta ini ada, dan jika alam semesta ini tidak ada maka Allah pun tidak ada."
Kiai Shomad diam tercenung. Diambilnya sepotong jadah dan mengunyahnya. Kemudian katanya, "Mbah, nuwun sewu, saya ini orang bodoh. Pertanyaan sampeyan di luar kemampuan otak saya. Akal pikiran saya mung sak dermo."
Wajah Dulkamid berubah muram. Kepalanya menunduk yang membuat punggungnya yang sudah bungkuk semakin bungkuk. "Tapi Pak Kiai....." katanya ragu.
Melihat sikap Dulkamid yang murung, Kiai Shomad tersenyum arif. Katanya, "Mbah, saya kira tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan sampeyan. Apa lagi orang seperti Shomad ini yang ilmunya pas-pasan. Pembahasan tentang adanya Allah hanya bisa dijawab dengan dalil-dalil. Baik dalil aqli, maupun dalil naqli."
"Maksud Pak Kiai?"
"Begini, mengapa prang meyakini adanya Tuhan, karena penggunaan dalil aqli dan dalil naqli tersebut."
"Apa itu dalil aqlinya bahwa Allah itu ada?" tanya Dulkamid tidak sabar.
"Alam tempat kita hidup beserta gejala-gejalanya yang bisa kita lihat dan kita sentuh tidak mungkin ada tanpa adanya Sang Maha Ada yang menciptakannya. Sangat menakjubkan desain dunia tempat kita hidup. Detailnya juga tidak bisa dijangkau dengan otak manusia. Bumi yang kita tinggali ini ternyata hanya seperti sebutir debu saja di bandingkan jagat raya ciptaan Tuhan. Ada matahari yang keliling lingkarannya ratusan kali lipat panjang keliling bumi. Matahari dengan 8 planetnya tergabung ke dalam galaksi bima sakti yang panjangnya 100 ribu tahun kecepatan cahaya. Padahal kecepatan cahaya adalah 300.000 kilometer perdetik. Selain matahari dan planet-planetnya ada 100 milyar bintang lainnya yang tergabung dalam galaksi bima sakti."
Kiai Shomad berhentiu sejenak, minum teh. Diamatinya Dulkamid yang nampak serius mendengarkan paparannya. Kemudian katanya, "Sampeyan tahu apa itu galaksi bima sakti?"
Dulkamid hanya geleng-gelleng kepala.
''Galaksi bima sakti itu hanya satu dari ribuan galaksi serupa yang tergabung dalam satu cluster. Cluster-cluster yang berjumlah ribuan tergabung lagi membentuk super cluster dan akhirnya dari ribuan super cluster membentuk jagat raya ini."
Dulkamid manggut-manggut.
"Nah Mbah, kalau bumi yang dihuni sekitar 8 milyar umat manusia ini hanya seperti debu di banding jagat raya, apalah arti seorang Shomad ini, tak terhingga kecil dan remehnya. Inilah dalil aqli atau logikanya mengapa Tuhan itu ada. Tidak masuk akal kan Mbah, jika jagat raya yang sangat dahsyat ini tak ada yang membuat dan mengaturnya?"
"Ehm..., dalil naqli itu apa Pak Kiai?" tanya Dulkamid.
"Dalil naqli itu keterangan-keterangan yang disampaikan oleh para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia terpilih yang diamanati Allah untuk menjadi nabi atau rasul. Allah menyampaikan perintah-perintah untuk dijalankan umat manusia melalui wahyu yang disampaikan kepada para rasul dan nabi-Nya. Dalam al qur'an surat al-furqon ayat 61 Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang menciptakan jagat raya ini. Artinya begini, Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya."
"Tapi Pak Kiai....tentang dua pertanyaan saya tadi?"
"Pertanyaan yang mana?"
"Pertanyaan apa bukti adanya Allah sebelum jagat raya ini diciptakan, dan seandainya jagat raya ini tida ada apa berarti Allah juga tidak ada?"
Wajah Pak Kiai seperti orang kebingungan. "Iya, saya ingat pertanyaan sampeyan itu. Tapi mana? Bisakah sampeyan tunjukan pada saya biar aku raba pertanyaan itu?"
Kini Dulkamid yang nampak kebingungan. "Maksud Pak Kiai?"
"Sampeyan bilang punya dua pertanyaan? Mana? Tolong tunjukan padaku agar bisa aku raba?"
Dulkamid tertawa terkekeh-kekeh. "Pak Kiai bisa aja, masa kata-kata bisa diraba?"
"Tapi sampeyan percaya tidak kalau pertanyaan itu ada?"
"Ya percaya dong, Pak Kiai."
"Walau pun tidak bisa dipegang?"
"Iya."
Kiai Shomad manggut-manggut. "Itulah Allah. Dia tidak bisa dicerna dengan indera apa pun yang dimiliki manusia. Apa lagi otak kita yang tak terhingga kecil dan remehnya. Pertanyaan itu hanya rekayasa otak sampeyan saja. Jika mahluk Allah saja banyak yang immateri, tak tersentuh indera, kenapa sampeyan merekayasa Allah dalam bentuk fisik?"
"Kulo dereng mudeng Pak Kiai...."
Kiai Shomad bergumam. Dan, plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dulkamid. Dulkamid menjerit kesakitan.
"Kenapa?" tanya Kiai Shomad dengan mimik heran.
"Kenapa menampar saya? Sakit....," kata Dulkamid sambil meringis.
"Sakit? Mana sakit? Aku tak melihat ada sakit?"
"Ini pipi saya sakit," kata Dulkamid.
"Tapi saya tidak melihat ada sakit di pipi sampeyan," kata Kiai Shomad serius.
Dulkamid yang kesakitan juga keheranan.
WARNING
Dulkamid hanyalah tokoh fiktif rekaan penulis semata. Kesamaan nama, tempat dan peristiwa sungguh tanpa adanya unsur kesengajaan. Intisari cerita dari episode ini sebagian adalah rekaan penulis dan sebagian lain mengambil dari kitab-kitab klasik, dengan tanpa maksud tertentu kecuali untuk ziyadatul khoir dari Sebuah hikmah. Karena kebodohan penulis saja sehingga judul kitabnya tidak bisa dituliS di sini. Mohon korekSi dari dari para alim dan ahli sekalian. Terima kasih.

0 Responses to "dulkamid mencari tuhan : Dulkkamid Bertanya Tentang Tuhan"
Posting Komentar