0

anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag.2

Rabu, 16 Mei 2012

 Dulkamid
 @bis Dewi Sri



Satu jam menunggu, bis Dewi Sri warna putih jurusan Pekalongan - Pulogadung pun datang. Dengan jalan terhuyung-huyung Dulkamid langsung naik ke dalam bis. Ternyata masih banyak kursi kosong. Dulkamid memilih kursi jajar tiga persis di belakang sopir. Dia memasukan traveling bag-nya ke dalam rak di kabin bis. Sementara tas kresek hitamnya dia taruh di pangkuan. Rupanya kresek itu berisi nasi bungkus bekal makan siang di jalan.


Dulkamid menoleh ke arah para penumpang lain yang sudah duduk manis. Sebagian dari mereka nampak terkantuk-kantuk. Diamatinya satu persatu penumpang. Tak satu pun dari mereka yang menarik perhatiannya. Dulkamid entah kenapa, selalu bersimpati dan menaruh hormat jika bertemu dengan seorang lelaki berkopyah hitam, baju koko dan bermuka bersih. Atau wanita dengan kerudung besar yang menutupi dadanya dengan muka anggun dan selalu merendahkan pandangannya kepada setiap lelaki.Dulkamid pikir, pria atau wanita seperti itu pastilah seorang ahli agama yang taat beribadah. Makanya Dulkamid akan langsung tertarik hatinya dan menaruh hormat.

Tapi tak seorang pun dari mereka yang menunjukan ciri-ciri tersebut. Ada yang berkopyah hitam tapi mukanya lecek seperti uang ribuan lama. Ada pula wanita berjilbab tapi pamer tonjolan dada yang membusung dan mukanya pendirangan menantang.

Ternyata bis yang ditumpangi tidak segera berangkat. Mungkin masih menunggu tambahan penumpang. Tiba-tiba Dulkamid bangkit dari duduknya, menaruh tas kresek di atas kursi, dan turun dari bis. Rupanya dia berjalan mencari toilet.

Ketika Dulkamid kembali ke tempat duduknya ternyata ada seorang lelaki menduduki kursi pinggir jendela yang tadi didudukinya. Lelaki itu berkopyah hitam dan mengenakan baju koko warna dadu. Mukanya bersih dan nampak santun sekali. Dulkamid tersenyum dan mengangguk hormat ke orang tadi dan menjabat seraya mencium tangannya. Lelaki itu nampak sungkan dan bingung. Dia nampak kaget tiba-tiba dijabat dan dicium tangannya oleh lelaki yang usianya jauh lebih tua dari dirinya.

"Nuwun sewu, panjenengan kiai?" tanya Dulkamid dengan sangat sopan.

"Bukan," jawab Si Lelaki dengan wajah keheranan.

"Kalau begitu ustadz?" tanya Dulkamid lagi.

"Juga bukan," makin heran lelaki itu menjawab.

"Oh, guru ngaji?"

"Bukaaaan....!"

"Santri?!" tanya Dulkamid lagi. Kali ini dengan nada tinggi seperti menahan amarah.

Yang ditanya menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Tak dapat ditutupi wajahnya yang bingung dan panik terhadap sikap orang tua renta yang berdiri persis di depan wajahnya.

Dulkamid manggut-manggut. Katanya, "Kalau begitu sampeyan kiye wanyad dobol, ya?! Wanyad sialan!" Dulkamid betul-betul menunjukan kemarahannya sekarang. Teriakannya keras sehingga mengundang perhatian penumpang lain.

Bukan main kagetnya lelaki berkopyah hitam tadi. Dia tak menyangka bakal dibentak dan diumpat lelaki bungkuk  bau tanah itu. Refleks, lelaki berkopyah hitam bangun dari duduknya. "Apa maksud sampeyan membentak aku? Apa salahku?" hardiknya dengan berkacak pinggang.

Dulkamid malah tambah membara amarahnya. Tangannya menunjuk ke hidung lelaki berkopyah dan teriaknya, "Sampeyan merebut kursiku dan menduduki nasi ramesku!"

Kali ini lelaki berkopyah hitam nampak kaget dan menengok ke tempat di mana dia tadi menaruh pantatnya. Ternyata ada nasi bungkus yang sudah penyek dan nasinya memburai ke mana-mana. Pantes dari tadi empuknya aneh, pikirnya.


0 Responses to "anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag.2"