0

anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag. 1

Rabu, 16 Mei 2012

 Dulkamid 
@terminal Pemalang

Jam 8 pagi Kaki Dulkamid sudah angkluk-angkluk di kursi panjang yang berada di pelataran terminal Pemalang. Tubuh tuanya yang bungkuk duduk manis sambil srupat-sruput rokok Dji Sam Soe kesukaannya. Hmmm..... mantap! Apalagi ditingkahi udara pagi yang sejuk karena  ruwicek hujan semalaman.

Kaki Dulkamid berencana pergi ke Jakarta untuk menyambangi seorang keponakan yang menjadi pengusaha warteg di daerah Jelambar. Pesen sang ponakan, Dulkamid naik Bis Dewi Sri jurusan terminal Grogol yang lokasinya tidak jauh dari Jelambar. Nanti, Abror sang ponakan akan menjemputnya di terminal naik motor.

Di pangkuan Dulkamid ada traveling bag warna hitam, dan di sampingnya ada sebuah tas kresek warna hitam pula.Tepat tak jauh dari kaki nya seekor anjing besar duduk sambil menjulurkan lidahnya yang panjang.Bulunya coklat mengkilat dan di bagian leher bawahnya berbulu putih sehingga mirip dasi. Tiba--tiba seseorang datang menghampiri Dulkamid.

"Mbah, ke Jakarta?"

Kaki Dulkamid melengos. "Mbah, Mbah! Memangnya kapan aku nikah sama Mbokmu?!" katanya ketus.

Orang yang ternyata adalah calo bus terdiam bengong. "Oh, ya maaf. Ke Jakarta Pak?"

"Om!"

"Oh ya, deh. Ke Jakarta Om?"

"Enggak!"

"Memang mau ke mana, Om?"

"Grogol!" tukas Dulkamid yang membuat Si Calo bengong lagi.

"Ya kan sama saja Jakartanya, Om?"

"Bis Apa?" tanya Dulkamid.

"Sinar Jaya Patas, Om. Langsung Grogol," jawab Si Calo bersemangat.

"Emoh. Aku cuma mau numpak Dewi Sri."

Si Calo mengerutkan keningnya, kemudian katanya, "Sinar Jaya yang mau jalan duluan Om..!"

"Emoh, pokoke Dewi Sri sing maring Grogol." tegas Dulkamid.

Datang lagi seorang calo bis menghampiri Dulkamid sambil menyodorkan tiket bertuliskan Dedy Jaya. "Langsung terminal Grogol patang puluh ewu pan mlayu saiki," katanya dengan gaya yang sangat meyakinkan.

Dulkamid memperhatikan sejenak tulisan Dedy Jaya pada tiket yang disodorkan kemudian melengos geram. "Pokoke Dewi Sri sing maring Grogol! Mene karcise, satus ewu ya tak bayar!" katanya.

Dua orang calo bus itu hanya berpandangan kemudian salah seorang dari mereka berteriak memanggil temannya. Ternyata kali ini adalah calo bus yang di tunggu Dulkamid. Melihat tulisan Dewi Sri, tanpa pikir panjang lagi Dulkamid langsung menyerahkan selembar uang ratusan ribu. "Tapi ini tiket bis ke Pulogadung. Nanti kalau istirahat di rumah makan sampeyan di pindah ke bis Dewi Sri yang ke terminal Grogol, ya?" ujar calo bus Dewi Sri. "Sementara sampeyan duduk di sini dulu nunggu bisnya datang dari Pekalongan ya?"

Dulkamid hanya mengangguk dan menyelipkan tiket bis itu dengan hati-hati ke lipatan kopyah hitam yang dipakainya. Dua calo bis yang ditolak hanya tersenyum kecut. Tiba-tiba mata mereka melirik ke anjing yang sedari tadi duduk anteng dekat kaki Dulkamid. Mereka seperti tergoda dengan kemolekan bulu anjing yang coklat mengkilat. Apa lagi bulu putih yang memanjang di bagian bawah lehernya sehingga mirip seperti dasi. Lucu sekali.

"Anjing sampeyan gigit nggak, Om?" tanya calo bis Sinar Jaya seraya jongkok dekat sang anjing.

"Enggak!" jawab Dulkamid singkat dan tegas.

Calo bis Dedy Jaya pun ikut jongkok tergoda pengin mengelus punggung sang anjing. Ketika tangan mereka menyentuh tubuhnya, di luar dugaan anjing itu bereaksi dengan beringasnya, Dia menyalak sangat keras dan melompat menerkam dua orang calo bis itu. Untunglah mereka cukup sigap. Mereka berkelit dan lari tunggang-langgang.

"Orang tua tak tahu diri! Kaki-kaki penyok!" umpat mereka kepada Dulkamid dengan tubuh bergetar saking marahnya.

"Hai! Jangan sembarangan sama orang tua ya!?" bentak Dulkamid sambil berdiri. "Apa salah saya?!"

"Sampeyan tadi bilang kalau anjing sampeyan tidak galak. Ternyata hampir saja muka saya diterkamnya!" teriak calo Sinar Jaya.

"Dasar kalian yang goblog! Compong! Ini bukan anjing saya. Anjing saya ada di rumah!"




0 Responses to "anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag. 1"