Dulkamid
@rumah makan Dewi Sri
Dewi Sri pun berangkat. Dulkamid kelap-kelip tak bisa merem blas! Duduknya tidak tenang. Hatinya kebat-kebit. Kekhawatiran menyeruak, di mana dan kapan sampai di rumah makan Dewi Sri. Sebab di sana nanti dirinya akan bicara dengan kernet bis minta di pindah ke bis Dewi Sri lain yang menuju ke terminal Grogol. Baginya ini penting karena jika sampai terlewati dia bisa tersesat di belantara jakarta!
Setelah sekitar menempuh perjalanan empat jam, bis Dewi Sri yang di tumpangi Dulkamid memasuki sebuah rumah makan. Dulkamid langsung bertanya kepada orang berkopyah hitam yang duduk di sampingnya, yang sepanjang perjalanan tadi diam membisu. Mungkin masih mangkel dengan peristiwa nasi rames tadi.
"Mas, ini rumah makan Dewi Sri?" tanyanya. Yang di tanya hanya menggumam dan mengangguk sambil membuang mukanya ke arah samping. Tak peduli dengan sikap teman seperjalanannya tadi Dulkamid langsung menghampiri kernet bis. "Mas Kernet, aku minta di pindah ke bis Dewi Sri yang ke terminal Grogol!" ujarnya.
"Oh, sampeyan mau ke Grogol?"
"Iya, betul!" jawab Dulkamid tegas.
"Nah, sampeyan......," bicara sang Kernet terhenti karena matanya sibuk mencari sesuatu. "Itu! Sampeyan ikut orang yang pake baju merah."
"Yayaya.... ," jawab Dulkamid cepat. Tanpa basa-basi lagi Dulkamid langsung memburu orang berbaju merah yang ditunjuk kernet tadi. Tapi kemudian dia kebingungan. Ternyata orang yang berbaju merah dan kernet bis bukan cuma seorang tapi semua kernet di situ mengenakan baju merah. Apa lagi di tambah ramaianya penumpang yang campur baur membuat Dulkamid kebingungan menentukan mana orang yang ditunjuk kernet tadi.
Akhirnya Dulkamid menghampiri salah seorang kernet bus berbaju merah. "Mas. Mas....." belum selesai ngomong yang ditegur berkata, "Sampeyan Pemalang?"
Dulkamid mengernyitkan dahi. Dia pikir mungkin maksud kernet tadi menanyakan apakah dia naik dari Pemalang, makanya dia buru-buru menjawab, "iya!"
"Ayo ikut aku!" ajak si Kernet.
Memasuki bis lain dengan mendapatkan kursi duduk, Dulkamid plong. Girang dan tenang hatinya. Makanya kemudian ketika baru saja bis keluar dari rumah makan, Dulkamid sudah pulas. Ramainya lalulintas pantura siang hari ditambah sering adanya jalan-jalan yang padat di beberapa titik konsentrasi sama sekali tak menggemingkan tidur Dulkamid.
Setelah bis melintasi jarak ratusan kilometer, Dulkamid terbangun. Ternyata bis sedang melambat karena memsuki terminal. Dulkamid pikir, ini dia yang namanya terminal Grogol! Tapi kok, seperti pernah aku lihat? batin Dulkamid. Dia melihat, bangunan terminalnya, jalanannnya, warung-warung yang nampak kumuh dan, para tukang becak!
Becak? Kan di DKI becak di larang? Masa terminal Grogol ada becak ngetem? Tiba-tiba Dulkamid merasa seperti tersambar
petir. ketika kernet bis berteriak lantang, Pemalang habis, Pemalang habis!!!!
HABIS
@rumah makan Dewi Sri
Dewi Sri pun berangkat. Dulkamid kelap-kelip tak bisa merem blas! Duduknya tidak tenang. Hatinya kebat-kebit. Kekhawatiran menyeruak, di mana dan kapan sampai di rumah makan Dewi Sri. Sebab di sana nanti dirinya akan bicara dengan kernet bis minta di pindah ke bis Dewi Sri lain yang menuju ke terminal Grogol. Baginya ini penting karena jika sampai terlewati dia bisa tersesat di belantara jakarta!
Setelah sekitar menempuh perjalanan empat jam, bis Dewi Sri yang di tumpangi Dulkamid memasuki sebuah rumah makan. Dulkamid langsung bertanya kepada orang berkopyah hitam yang duduk di sampingnya, yang sepanjang perjalanan tadi diam membisu. Mungkin masih mangkel dengan peristiwa nasi rames tadi.
"Mas, ini rumah makan Dewi Sri?" tanyanya. Yang di tanya hanya menggumam dan mengangguk sambil membuang mukanya ke arah samping. Tak peduli dengan sikap teman seperjalanannya tadi Dulkamid langsung menghampiri kernet bis. "Mas Kernet, aku minta di pindah ke bis Dewi Sri yang ke terminal Grogol!" ujarnya.
"Oh, sampeyan mau ke Grogol?"
"Iya, betul!" jawab Dulkamid tegas.
"Nah, sampeyan......," bicara sang Kernet terhenti karena matanya sibuk mencari sesuatu. "Itu! Sampeyan ikut orang yang pake baju merah."
"Yayaya.... ," jawab Dulkamid cepat. Tanpa basa-basi lagi Dulkamid langsung memburu orang berbaju merah yang ditunjuk kernet tadi. Tapi kemudian dia kebingungan. Ternyata orang yang berbaju merah dan kernet bis bukan cuma seorang tapi semua kernet di situ mengenakan baju merah. Apa lagi di tambah ramaianya penumpang yang campur baur membuat Dulkamid kebingungan menentukan mana orang yang ditunjuk kernet tadi.
Akhirnya Dulkamid menghampiri salah seorang kernet bus berbaju merah. "Mas. Mas....." belum selesai ngomong yang ditegur berkata, "Sampeyan Pemalang?"
Dulkamid mengernyitkan dahi. Dia pikir mungkin maksud kernet tadi menanyakan apakah dia naik dari Pemalang, makanya dia buru-buru menjawab, "iya!"
"Ayo ikut aku!" ajak si Kernet.
Memasuki bis lain dengan mendapatkan kursi duduk, Dulkamid plong. Girang dan tenang hatinya. Makanya kemudian ketika baru saja bis keluar dari rumah makan, Dulkamid sudah pulas. Ramainya lalulintas pantura siang hari ditambah sering adanya jalan-jalan yang padat di beberapa titik konsentrasi sama sekali tak menggemingkan tidur Dulkamid.
Setelah bis melintasi jarak ratusan kilometer, Dulkamid terbangun. Ternyata bis sedang melambat karena memsuki terminal. Dulkamid pikir, ini dia yang namanya terminal Grogol! Tapi kok, seperti pernah aku lihat? batin Dulkamid. Dia melihat, bangunan terminalnya, jalanannnya, warung-warung yang nampak kumuh dan, para tukang becak!
Becak? Kan di DKI becak di larang? Masa terminal Grogol ada becak ngetem? Tiba-tiba Dulkamid merasa seperti tersambar
petir. ketika kernet bis berteriak lantang, Pemalang habis, Pemalang habis!!!!
HABIS

0 Responses to "anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag. 3"
Posting Komentar