Katakan padaku, apa saja yang telah kamu lakukan ketika tidak berada di
dekatku? Ceritakan kepadaku hal-hal buruk apa yang pernah kamu kerjakan
selama ini? Seandainya samua rahasia kamu ada dalam genggamanku,
misalnya aku tahu siapa kamu seperti kamu tahu siapa diri kamu, maka
boleh jadi kamu akan membunuhku.
Para tokoh, pembesar, ilmuwan,
ulama, da’i, rohaniawan dan siapa pun dalam sekejap bisa saja menjelma
menjadi tissue lecek yang orang akan menyingkirkannya ke tempat sampah
dengan ujung kuku. Performance pribadi yang arif bijaksana, elegan,
anggun dan berwibawa mendadak sirna ketika terkuak borok-boroknya di
depan umum.
Aib. Siapa sih manusia dewasa yang tidak punya aib?
Mereka yang kini mendekam di balik jeruji penjara adalah orang-orang
yang bernasib nahas terbongkar aibnya. Ada juga tokoh panutan,
kharismatik dan memiliki pengaruh akhirnya cuma menjadi keledai bodoh
ketika perbuatan khilapnya di ketahui khalayak.
Aib yang terkuak
membuat sorot mata tertahan, langkah yang terhenti dan terpuruknya
harga diri. Demikianlah manusia, keluhuran derajatnya selalu di ujung
tanduk. Oleh karenanya, manusia yang memiliki kemulyaan di sisi Tuhan
hanyalah diukur dari ketakwaannya. Inna akromakum ‘indallaahi atqookum
(sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang
paling bertakwa) QS 49:13.
Begitu vitalnya aib bagi harga diri
seseorang, sehingga Tuhan pun menjaga aib hambanya dengan sangat ketat.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ketika kemarau yang sangat panjang Nabi
Musa bersama ribuan umatnya berkumpul di sebuah padang pasir tandus.
“Ilahi…asqinaa ghoisak, wanshur ‘alaina…rohmatak…..!” Mereka berdoa
kepada Tuhan-Nya agar segera diturunkan hujan. Namun hujan tidak juga
turun. Bahkan tak sedikit pun nampak tanda-tanda akan segera turun
hujan. Sehingga mereka pun mengulangi do’anya sampai berulang-ulang.
Sampai
akhirnya Tuhan pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana aku akan
menurunkan hujan jika ada di tengah-tengah kalian seseorang yang
bermaksiat kepadaku sejak empat puluh tahun yang lalu. Umumkanlah agar
dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah Aku tidak mengabulkan
do’a kalian”.
Musa pun segera berseru kepada umatnya, “Wahai
hamba yang bermaksiat kepada Tuhan selama empat puluh Tahun! Tunjukan
dirimu. Karena kamulah Tuhan tidak mengabulkan do’a kita!”
Tak
seorang pun dari ribuan umat Musa bereaksi. Hanya ada seorang lelaki
yang tampak gamang dengan duduknya. Dia menoleh kanan kiri, dan tak
dilihatnya seseorang yang berdiri. Sadarlah ia, dirinyalah yang
dimaksudkan Musa.
Lelaki itu tetap bergeming dengan sikapnya.
Hatinya gundah-gulana. Kalau mengaku, maka aib dirinya akan diketahui
semua orang, tetapi kalau tidak mengaku maka Tuhan tidak akan segera
menurunkan hujan. Dengan linangan air mata, lelaki itu pun berbisik, “Ya
Allah, hamba sudah bermaksiat kepada-Mu selama empat puluh tahun.
Selama itu pula Engkau telah menutupi aibku dari manusia. Sekarang hamba
bertaubat, terimalah taubat hamba ya Allah!”
Dan Tuhan pun
segera menurunkan hujan. Musa yang keheranan pun bertanya kepada
Tuhannya, “ Engkau telah menurunkan hujan, pada hal belum ada seorang
pun yang berdiri menunjukan diri kepada kami?”
Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan oleh karena hamba yang telah menyebabkan hujan tidak turun.”
“Tunjukan padaku, siapa hamba itu ya Allah?” pinta Musa.
“Wahai
Musa, Aku telah menutupi aibnya padahal dia bermaksiat pada-Ku.. Apakah
aku akan membuka aibnya setelah sekarang dia taat kepada-Ku?”
Aib,
sudah seharusnya tetap menjadi rahasia antara pemilik aib dengan
Tuhannya. Siapa pun tidak berhak membongkar aib, bahkan termasuk si
pemilik aib sendiri. Tereksposnya aib berarti tersebarnya keburukan di
masyarakat yang sangat berpotensi bahaya terlibatnya masyarakat luas
dalam keburukan yang sama.
Keburukan yang terus-menerus
disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat justru merubah keburukan itu
menjelma menjadi sesuatu yang biasa. Hilang kekhawatiran dari bahaya
keburukan yang sudah dianggap menjadi sesuatu yang umum.
Dalam
sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda, dan
barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka niscaya Allah akan menutupi
aibnya ketika di dunia dan di akhirat. An-Nawawi merinci maksud dari
hadist ini dalam kitabnya al-Biir wa ash Shilah, menutup aib yang
dianjurkan adalah apa bila yang memiliki aib tersebut orang yang dikenal
tidak biasa melakukan keburukan dan kerusakan.
Sedang apa bila
orang tersebut sudah dikenal sering berbuat keburukan dan kerusakan maka
justru harus dibongkar aibnya dan dilaporkan kepada yang berwenang
karena dikhawatirkan orang tersebut akan semakin berani mengulangi
perbuatannya.
Bahkan untuk seseorang yang telah melakukan dosa
besar sehingga atas dirinya bisa dituntut hukuman berat, maka Rasulullah
meneladani untuk tidak menjatuhkan had tetapi memberikan kepadanya
kesempatan untuk bertaubat.
Anas bin Malik bercerita, suatu
ketika datang kepada Rasulullah seorang lelaki seraya berkata, “Wahai
Rasulullah, seseungguhnya aku layak mendapat hukuman had, maka
laksanakanlah…”
Anas bin Malik berkata, “Dan beliau tidak
menanyakan apa yang relah dilakukannya.” Seusai sholat orang tadi
mengulangi perkataannya. Rasulullah menjawab, “Alaisa qod sholaita
ma’anaa? (Bukankah kamu telah sholat bersama kami?)” Lelaki itu
menjawab, “benar!” Dan Rasulullah menjawab, “fainnallaha qod ghofaro
dzambak. (sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu.”
Demikian
terhormatnya kehormatan seorang muslim, sehingga Rasulullah pun tidak
ingin lebih jauh mendengar aib yang telah dilakukan lelaki itu.
Melaksanaksanakan hukuman had kepada pelaku dosa besar yang telah taubat
tidak lebih penting dari menutupi aib seorang muslim.
Entahlah
dengan era kini, yang orang demikian mudahnya mendapat informasi apa
saja dari berbagai media apa saja. Bukan hanya informasi yang bernilai
berita tetapi juga informasi pribadi seseorang yang mungkin ingin
diketahui orang banyak.
Infotainment, misalnya. Sedemikian
boomingnya keingintahuan masyarakat tentang seseorang yang disebut
sebasgai public figure, sampai-sampa fungsi informasi berubah menjadi
tajassus atau mencari-cari sesuatu yang salah dari seseorang.
Sedemikian
maraknya infotainment, sampai-sampai prilaku yang sebenarnya luar biasa
menjadi biasa. Misalnya, artis A pergi liburan berdua dengan pacarnya
ke luar negeri. Pasangan artis B dan C masih belum berkomitmen meskipun
sudah kumpul serumah. Atau yang lebih heboh lagi, seorang seleb merasa
sedang mendapat anugerah yang sangat luar biasa yaitu mendapat titipan
calon bocah dikandungannya. Padahal dia belum pernah menikah, dan
siapakah bapaknya? Ada deh!
Boleh jadi, moral yang menyimpang
bukan merupakan aib bagi sebagian orang. Karena kehormatan mereka ada
dalam tumpukan uang dan gelimang harta benda. Tetapi maraknya
pemberitaan tingkah polah mereka setidaknya melahirkan kebimbangan dalam
hati maysarakat. Aibkah, atau wajarkah perilaku-perilaku sebagian para
seleb yang secara terang-terangan menafikan ajaran agma yang mungkin
mereka anut?
Seandainya Tuhan membuka aib para da’i, ustadz atau
kiai mungkinkah kita masih mendengar fatwa dan ceramahnya? Seandainya
aib para pendeta terbongkar, maka boleh jadi gereja pun tanpa jemaat
lagi. Tuhan yang maha tahu saja, menutupi aib para hamba-Nya, tetapi
manusia jika sedikit saja mengetahui aib orang lain maka dia akan
berteriak-teriak kegirangan, seperti anak kecil yang mendapat layangan
lepas....
0
Aku Bongkar Borokmu.....
Aku Bongkar Borokmu.....
Rabu, 16 Mei 2012
| 0 Comments | Email This
Langganan:
Posting Komentar (RSS)

0 Responses to "Aku Bongkar Borokmu....."
Posting Komentar