0

GIMMICK : Biarlah Kau Habis Uang, Asal Habis Pula Daganganku

Jumat, 28 Desember 2012

Ketika jalan-jalan ke pusat perbelanjaan sering kali kita melihat tulisan besar-besar dengan warna mencolok di pintu masuk toko atau dipajang bersama dagangan. Seperti diskon, sale, obral, cuci gudang. Berbagai penawaran unik dan kreatif membuat toko tersebut terkesan menawarkan sesuatu yang spesial, padahal sebenarnya biasa saja.

Tujuan dari pemilik toko tentu saja adalah demi menggaet nafsu belanja orang sehingga dengan serta-merta segera ngecek isi dompet atau mencari ATM terdekat. Apa lagi terkadang pemilik toko sengaja membatasi masa berlaku promo. Padahal belum tentu batasan masa promo itu berlaku. Hehe….

Strategi  menjebak nafsu belanja calon konsumen juga dilakukan oleh banyak minimarket  yang sekarang sangat menjamur hingga pelosok-pelosok kampung. Biasanya mereka memajang tulisan besar-besar di pinggir jalan yang memuat nama beberapa produk dengan label harga yang sangat fantastis murahnya. Tujuannya jelas untuk memancing orang berbelanja.

Jika  sudah masuk perangkap, maka anda pun akan membeli beberapa produk lain yang harganya sengaja dinaikan di atas pasaran untuk menutup kerugian atau laba yang hilang dari barang-barang yang dijual dengan harga promo.

Strategi marketing lain yang acapkali membuat kita terperangah adalah buy one, get one free. Bagaimana tidak bersemangat jika hanya membayar satu barang bisa membawa pulang dua barang.

Penawaran seperti ini sebenarnya sangat menguntungkan jika kita memang membutuhkan barang tersebut. Menghemat, bisa membeli barang hanya dengan setengah harga. Tapi jika membeli hanya terdorong harga murah malah menjadi pemborosan.

Penawaran lain yang sekilas terasa menguntungkan tetapi sebenarnya bisa menjadi pemborosan adalah strategi buy more, save more. Harga ditawarkan lebih murah dengan pembelian dalam jumlah tertentu. Misalnya harga sebuah kaos oblong Rp. 60.000,- tapi jika anda membeli tiga sekaligus cukup membayar Rp 150.000,-.

Trik ini sekilas terkesan menguntungkan anda dengan  membayar lebih murah, padahal pada kenyataannya anda harus merogoh kocek lebih dalam.

Ada juga strategi marketing yang membuat anda membeli barang yang sama sekali tidak anda suka. Anda akan mendapat diskon 15% untuk membeli barang mana pun di toko tersebut dengan catatan  membeli dulu barang tertentu.  Biasanya barang yang wajib dibeli tersebut dikasih label diskon sangat besar hingga 60%. Mungkin karena modelnya yang sudah jadul, warnanya yang norak atau mungkin barang bongkoran yang tidak laku.

Ada banyak strategi atau trik marketing yang dilakukan pedagang untuk membuat anda bertambah konsumtif. Namanya juga trik tentu  bersifat menjebak. Di samping harus menggiurkan dan kontroversial. Trik seperti ini dalam strategi marketing disebut gimmick.

Suatu sore, saya mengajak anak perempuan saya jalan-jalan berkeliling kota. Ketika melintas deretan gerobak penjual makanan kecil, mereka rame-rame memberi  isyarat agar saya singgah ke gerobaknya sambil menawarkan dagangannya. Saya pun meminggirkan motor sambil masih mikir-mikir cemilan apa yang hendak dibeli.

Tiba-tiba saya dikagetkan  seseorang yang menyodorkan kue lapis kepada anak saya, “Ayo Dik, dicoba. Gratis….!”

Seperti dihipnotis saya pun menggandeng  anak saya ke gerobak penjual kue lapis itu. Saya pikir, pasti rasanya enak makanya dia berani garansi dengan memberi gimmick sepotong kue lapis. Lha tapi apa gak rugi yah…. Kenyataan saya beli cuma sepuluh potong. Perpotong Rp 1.000,- Berarti dia rugi 10%, atau Rp 1.000,-. dong....

Itulah dahsyatnya gimmick.

Memakai trik, atau strategi marketing sah-sah saja. Asal bukan yang model tipu-tipu.

0

dulkamid mencari tuhan : Allah Itu Tidak Ada!

Rabu, 16 Mei 2012

Dulkamid segera menyongsong tamunya, Kiai Shomad. Menyalaminya seraya hendak mencium tangan tetapi Sang Kiai menarik tangannya cepat-cepat. "Jangan begitu, Mbah. Harusnya aku yang mencium tangan sampeyan....!" ujar Kia Shomad sambil mengulas senyum.

Dulkamid manggut-manggut. "Inggih-inggih, Kiai. Monggo pinarak. Baju Pak Kiai sudah kelar tuh....." kata Dulkamid dengan sangat sopan. Segera dihampirinya  lemari ukuran besar. Dulkamid menggeser pintu kaca tembus pandang ke arah kanan dan diambilnya sebuah baju warna putih berkerah putih yang digantung dengan hanger. Tampak rapi dengan setrikaan yang sangat licin.

Kiai Shomad menerima baju dan mematut-matut ke badannya. "Wah, necis sekali baju jahitan sampeyan, Mbah.  Pantesan banyak orang yang menjahitkan baju di sini....." Kata Kiai Shomad dengan muka cerah.

Sebaliknya wajah Dulkamid justru ketekuk. "Rame kerjaan, tapi hasilnya cape aja...." gumamnya.

Kiai Shomad menoleh ke arah Dulkamid, dan katanya, "Apa Mbah? Hmmm.... jangan begitu. Kan kita harus selalu mensyukuri apa pun yang sudah Tuhan kasih."

"Apa benar yang ngasih ke kita Tuhan? Wong semua hasil kerja kita sendiri!" ujar Dulkamid yakin.

Kiai Shomad menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Mbah, Mbah.... Sampeyan tahu apa itu rejeki kan?"

"Saya kerja, menerima jahitan baju orang terus orang itu membayar saya dengan uang. Itu rejeki saya, Pak Kiai...."

"Bener itu, Mbah. Namun bukan hanya itu. Ma ataka Allah, sesuatu yang datang dari Allah, semua itu rejeki Mbah. Sejak proses dalam rahim, Allah menumbuhkan sperma dalam indung telur ibu sampeyan menjadi darah kemudian dikembangkan menjadi segumpal daging dan berproses terus menjadi anak manusia lengkap dengan segala instrumennya berupa tangan, kaki, mata, telinga dan semua yang sampeyan miliki itu tanpa harus meminta, Allah sudah memberinya. Lalu Allah juga menyiapkan air susu buat sampeyan tanpa ikhtiar apa pun." Kiai Shomad menarik nafas panjang. "Mbah....," katanya kemudian.

"Saya, Pak Kiai," jawab Dulkamid penuh hormat.

"Allah juga menyediakan udara, energi matahari dan kandungan perut bumi untuk kesinambungan kehidupan sampeyan di muka bumi. Tinggal kewajiban sempeyan untuk melakukan ikhtiar dengan mendayagunakan semua pemberian Allah tadi. Buktinya Allah sudah memberi  ilmu menjahit sehingga dengan bantuan kedua tangan, kaki, mata, otak dan anggota tubuh lain sampeyan bisa mencari nafkah."

"Betul itu, Pak Kiai.Tetapi kenapa Allah tidak memberi saya rejeki yang cukup? Padahal siang malam kerja sampai punggung tua saya bungkuk begini....!"

"Hehehe......!"Kiai Shomad terkekeh. "Sampeyan ana-ana tok, Mbah! Coba sampeyan amati sapu itu. Mungkin ijuk-ijuk itu mengeluh, mengapa kami harus bersentuhan langsung dengan lantai yang kotor, sementara gagang sapu selalu bersentuhan dengan tangan lembut pemiliknya. Ijuk-ijuk itu protes kepada sang pemilik, mengapa anda hanya memegang gagang, padahal kami yang bekerja keras sampai tubuh kami semua kotor? Pemilik sapu menjawab, ubah bentuk kalian agar mamadai sebagai gagang, nanti aku akan menyentuhmu setiap kali menggunakan sapu ini!"

Kiai Shomad menunggu reaksi Dulkamid. Kemudian katanya, "Allah tidak akan merubah nasib sampeyan  kecuali sampeyan merubahnya sendiri. Tidak cukup berdo'a namun sampeyan juga harus berikhtiar, mendayagunakan segenap kemampuan maksimal agar mendapatkan penghasilan yang berlebih. Selain itu, kewajiban kita adalah mensyukuri semua yang telah Allah bagi kepada kita."

"Tapi Pak Kiai, bagaimana saya bersyukur sementara Allah membagi terlalu sedikit rejeki kepada saya?" tukas Dulkamid ngeyel.

Kiai Shomad tersenyum. "Selama cara berpikirnya  masih berkutat seputar dimensi materi, fisikal saja, maka sampeyan tidak akan pernah bisa bersyukur."

"Maksud Pak Kiai?"

"Begini Mbah, saya akan bercerita tentang sebuah negara yang 30 tahun lalu menjadi negara terkaya di dunia dengan pendapatan per kapitanya mencapai 17.000 dollar. Bandingkan dengan indonesia yang waktu itu hanya 530 dollar pertahun. Nama negara itu Nauru, yang berjarak 500 km dari Papua berbatasan dengan Australia. Luas wilayah Nauru hanya 21 km2 tetapi Allah melimpahinya dengan Fosfat, bahan pembuat pupuk sehingga selama berpuluh-puluh tahun rakyat Nauru yang berjumlah 13.000 jiwa itu hidup bergelimang harta. Mereka mengeruk fosfat itu habis-habisan dan menukarkannya dengan kemewahan. Semua fasilitas digratiskan, rakyat hidup bermalas-malasan karena semua kebutuhan hidup sudah disediakan oleh negara." Kiai Shomad berhenti sejenak.

"Namun sekarang Mbah," lanjutnya. "Nauru menjadi negara miskin semiskinnya. Hampir 90 persen wilayah Nauru tak layak menjadi tempat tinggal. Tumbuhan hijau dan habatit mamalia musnah. Bahkan kebutuhan air dan makanan semuanya harus mengimpor. Sementara pemerintahan bangkrut tak mampu lagi membiayai kebutuhan rakyatnya."

"Itu kan karena kesalahan mereka sendiri, Pak Kiai," ujar Dulkamid.

"Tepat, Mbah! Mereka tidak pandai mensyukurinya dengan cara mengelola limpahan rejeki Allah itu dengan sebaik-baiknya," jawab Kiai Shomad.

"Saya masih belum yakin, Pak Kiai. Coba Pak Kiai menengok ke jalanan. Banyak bergentayangan para gelandangan, pengemis, anak-anak terlantar yang setiap hari merasakan kelaparan. Jika benar rejeki itu datang dari Allah, kenapa sampai ada hamba-Nya yang mati kelaparan? Atau jangan-jangan.....," kata-kata Dulkamid terpotong.

"Jangan-jangan apa, Mbah?" tanya Pak Kiai penasaran.

Dada Dulkamid menyengal keras. Mulutnya bergetar. "Jangan-jangan sebenarnya Allah itu tidak ada!" katanya dengan emosi.

Kiai Shomad tersentak. "Astaghfirullah..... Mbah! Sampeyan ngomong apa?"

"Allah itu tidak ada! Tidak ada Tuhan yang membagikan rejeki! Kalau Dia benar-benar ada tentu tidak ada yang mati karena kelaparan, tidak ada manusia yang kesusahan. Buat apa dia menciptakan manusia sebagai hambanya tapi kemudian Dia tidak mau mengurusnya? Saya tidak percaya kalau Allah itu ada!" tegas Dulkamid.

Kiai Shomad menarik nafas panjang. Tampaknya dia menahan diri untuk tidak larut dalam emosi Dulkamid. Kiai Shomad hanya terdiam. Pandangan matanya dia buang ke arah luar. Banyak orang lalu lalang di depan kios jahit Dulkamid.

Dulkamid menyeringai melihat sikap Kiai Shomad yang tampak gundah. "Nah, Pak Kiai sendiri bingung, kan? Memang Allah itu tidak ada, Pak Kiai!"

Kiai Shomad menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba tanpa berkata-kata Kiai Shomad bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar kios. Tidak berapa lama, dia kembali dengan menggandeng seorang lelaki bertelanjang dada dengan celana kolornya yang compang-camping.

Dulkamid keheranan. "Ada apa dengan dia, Pak Kiai?" tanyanya.

"Dia gelandangan yang sampeyan ceritakan tadi. Saya lihat dia setiap hari telanjang dada dan memakai calana yang sudah robek di sana-sini! Saya tanya katanya dia tidak mempunyai pakaian lagi kecuali celana kolor yang dia pakai sekarang," kata Kiai Shomad. Kemudian dia bertanya kepada Si Gelandangan, " Betul kan, Pak?"

Bapak tua yang gelandangan itu menganggguk. Kiai Shomad mengambil selembar uang sepuluh ribu dan menyerahkan kepada gelandangan itu. "Ini sedikit buat beli nasi. Sekarang sampeyan boleh kembali ke tempat tadi," katanya.

"Terima kasih, Pak Kiai!" ujar gelandangan dengan wajah cerah. Kemudian dia berlalu menuju jalanan.

"Nah, Mbah. Dengar sendiri tadi kan? Dia tidak punya pakaian kecuali celana kolor robek yang dipakaianya itu," kata Kiai Shomad.

Dulkamid mengangguk heran. "Maksud Pak Kiai?" tanyanya.

"Ternyata di dunia ini sudah tidak ada tukang jahit lagi!"

Dulkamid tertawa terkekeh-kekeh. "Pak Kiai ada-ada saja. Lho saya tukang jahit. Bahkan saya baru saja  menjahitkan baju Pak Kiai," katanya.

Kiai Shomad geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut. "Sudah tidak ada, Mbah. Kalau masih ada tentu orang tadi punya baju karena ada yang menjahitkan," kata Kiai Shomad.

Lagi-lagi Dulkamid terkekeh-kekeh. "Karena dia tidak datang kepada saya untuk meminta dijahitkan pakaian Pak Kiai!" katanya.

Kiai Shomad tersenyum lebar. "Tepat, Mbah! Sampeyan benar! Kenapa banyak orang yang kelaparan, gelandangan dan orang-orang terlantar karena  mereka tidak datang kepada Allah untuk minta rejeki, kemudian melakukan ikhtiarnya dengan sungguh-sungguh sehingga Allah akan mengirimkan rejeki kepadanya!"  tegas Kiai Shomad.

Dulkamid hanya melongo. Kening tuanya nampak mengernyit.

0

dulkamid mencari tuhan : Dulkkamid Bertanya Tentang Tuhan

Siang-siang Dulkamid berkunjung ke  padepokan Kiai Shomad. Suasananya lengang, karena sebagian besar penghuni padepokan tengah  khoilulah menjelang salat dhuhur. Meskipun suasana panas berkeringat, Kiai Shomad menyambutnya dengan ramah dan bersahabat,

"Alhamdulillah, kedatangan tamu agung. Apa kabar, Mbah?" sapa Sang Kiai ceria.

"Baik, Pak Kiai."  Dulkamid duduk bersilah di atas karpet tebal berwarna merah yang ada gambar bunga-bunga berhadapan dengan Kiai Shomad. "Pak Kiai, saya mempunyai dua pertanyaan."

Sejenak pembiacaraan Dulkamid terhenti ketika seorang santri keluar menyuguhkan teh dengan sepiring jadah yang dipotong-potong dadu. "Silahkan, Mbah diunjuk tehnya," ujar Kiai.

"Iya, Pak Kiai. Terima kasih," jawab Dulkamid sambil nyruput teh hangat yang membuat badannya makin berkeringat. Diambilnya sepotong jadah, dikunyahnya pelan-pelan. Kemudian lanjutnya, "Kata Pak Kiai, bukti Allah itu ada adalah adanya alam semesta yang merupakan ciptaan-Nya."

"Betul, betul itu Mbah," jawab Kiai Shomad dengan wajah serius.

"Lalu ketika alam semesta ini belum Allah ciptakan, apa yang menjadi bukti jika Allah itu ada?"

Kiai Shomad tercenung. Tatapan matanya lembut seperti takjub dengan pertanyaan Dulkamid yang nyleneh.

Dulkamid masih melanjutkan pertanyaannya, "Dan kalau alam semesta ini tidak ada, apa yang bisa menjadi bukti keberadaan Allah, Pak Kiai?"

Kiai Shomad manggut-manggut. "Silahkan dilanjutkan, Mbah," katanya.

"Saya berpendapat, berarti keberadaan Allah itu bergantung kepada keberadaan alam semesta ini," kata Dulkamid bersemangat. "Sebab Allah ada karena alam semesta ini ada, dan jika alam semesta ini tidak ada maka Allah pun tidak ada."

Kiai Shomad diam tercenung. Diambilnya sepotong jadah dan mengunyahnya.  Kemudian katanya,  "Mbah, nuwun sewu, saya ini orang bodoh. Pertanyaan sampeyan di luar kemampuan otak saya. Akal pikiran saya mung sak dermo."

Wajah Dulkamid berubah muram. Kepalanya menunduk yang membuat punggungnya yang sudah bungkuk semakin bungkuk. "Tapi Pak Kiai....." katanya ragu.

Melihat sikap Dulkamid yang murung, Kiai Shomad tersenyum arif. Katanya, "Mbah, saya kira tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan sampeyan. Apa lagi orang seperti Shomad ini yang ilmunya pas-pasan. Pembahasan tentang adanya Allah hanya bisa dijawab dengan dalil-dalil. Baik dalil aqli, maupun dalil naqli."

"Maksud Pak Kiai?"

"Begini, mengapa prang meyakini adanya Tuhan, karena penggunaan dalil aqli dan dalil naqli tersebut."

"Apa itu dalil aqlinya bahwa Allah itu ada?" tanya Dulkamid tidak sabar.

"Alam tempat kita hidup beserta gejala-gejalanya yang bisa kita lihat dan kita sentuh tidak mungkin ada tanpa adanya Sang Maha Ada yang menciptakannya. Sangat menakjubkan desain dunia tempat kita hidup. Detailnya juga tidak bisa dijangkau dengan otak manusia. Bumi yang kita tinggali ini ternyata hanya seperti sebutir debu saja di bandingkan jagat raya ciptaan Tuhan. Ada matahari yang keliling lingkarannya ratusan kali lipat panjang keliling bumi. Matahari dengan 8 planetnya tergabung ke dalam galaksi bima sakti yang panjangnya 100 ribu tahun kecepatan cahaya. Padahal kecepatan cahaya adalah 300.000 kilometer perdetik. Selain matahari dan planet-planetnya ada 100 milyar bintang lainnya yang tergabung dalam galaksi bima sakti."

Kiai Shomad berhentiu sejenak, minum teh. Diamatinya Dulkamid yang nampak serius mendengarkan paparannya. Kemudian katanya, "Sampeyan tahu apa itu galaksi bima sakti?"

Dulkamid hanya geleng-gelleng kepala.

''Galaksi bima sakti itu hanya satu dari ribuan galaksi serupa yang tergabung dalam satu cluster. Cluster-cluster yang berjumlah ribuan tergabung lagi membentuk super cluster dan akhirnya  dari ribuan super cluster membentuk jagat raya ini."

Dulkamid  manggut-manggut.

"Nah Mbah, kalau bumi yang dihuni sekitar 8 milyar umat manusia ini hanya seperti debu di banding jagat raya, apalah arti seorang Shomad ini, tak terhingga kecil dan remehnya. Inilah dalil aqli atau  logikanya mengapa Tuhan itu ada. Tidak masuk akal kan Mbah, jika jagat raya yang sangat dahsyat ini tak ada yang membuat dan mengaturnya?"

"Ehm..., dalil naqli itu apa Pak Kiai?" tanya Dulkamid.

"Dalil naqli itu keterangan-keterangan yang disampaikan oleh para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia terpilih yang diamanati Allah untuk menjadi nabi atau rasul. Allah menyampaikan perintah-perintah untuk dijalankan umat manusia melalui wahyu yang disampaikan kepada para rasul dan nabi-Nya. Dalam al qur'an  surat al-furqon ayat 61 Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang menciptakan jagat raya ini. Artinya begini, Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya."

"Tapi Pak Kiai....tentang dua pertanyaan saya tadi?"

"Pertanyaan yang mana?"

"Pertanyaan apa bukti adanya Allah sebelum jagat raya ini diciptakan, dan seandainya jagat raya ini tida ada apa berarti Allah juga tidak ada?"

Wajah Pak Kiai seperti orang kebingungan. "Iya, saya ingat pertanyaan sampeyan itu. Tapi mana? Bisakah sampeyan tunjukan pada saya biar aku raba pertanyaan itu?"

Kini Dulkamid yang nampak kebingungan. "Maksud Pak Kiai?"

"Sampeyan bilang punya dua pertanyaan? Mana? Tolong tunjukan padaku agar bisa aku raba?"

Dulkamid tertawa terkekeh-kekeh. "Pak Kiai bisa aja, masa kata-kata bisa diraba?"

"Tapi sampeyan percaya tidak kalau pertanyaan itu ada?"

"Ya percaya dong, Pak Kiai."

"Walau pun tidak bisa dipegang?"

"Iya."

Kiai Shomad manggut-manggut. "Itulah Allah. Dia tidak bisa dicerna dengan indera apa pun yang dimiliki manusia. Apa lagi otak kita yang tak terhingga kecil dan remehnya. Pertanyaan itu hanya rekayasa otak sampeyan saja. Jika mahluk Allah saja banyak yang immateri, tak tersentuh indera, kenapa sampeyan merekayasa Allah dalam bentuk fisik?"

"Kulo dereng mudeng Pak Kiai...."

Kiai Shomad bergumam. Dan, plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dulkamid. Dulkamid menjerit kesakitan.

"Kenapa?" tanya Kiai Shomad dengan mimik heran.

"Kenapa menampar saya? Sakit....," kata Dulkamid sambil meringis.

"Sakit? Mana sakit? Aku tak melihat ada sakit?"

"Ini pipi saya sakit," kata Dulkamid.

"Tapi saya tidak melihat ada sakit di pipi sampeyan," kata Kiai Shomad serius.

Dulkamid yang kesakitan juga keheranan.


WARNING

Dulkamid hanyalah tokoh fiktif rekaan penulis semata. Kesamaan nama, tempat dan peristiwa sungguh tanpa adanya unsur kesengajaan. Intisari cerita dari episode ini sebagian adalah rekaan penulis dan sebagian lain mengambil dari kitab-kitab klasik, dengan tanpa maksud tertentu kecuali untuk ziyadatul khoir dari Sebuah hikmah.  Karena kebodohan penulis saja sehingga judul kitabnya tidak bisa dituliS di sini. Mohon korekSi dari dari para alim dan ahli sekalian. Terima kasih.


0

dulkamid mencari tuhan : Dulkamid Pengin Melihat Tuhan

Ora enak mangan ora enak turu kyeh jakwire ente.  Pasalnya ada gamang dihatinya yang tak juga kunjung reda. Kelimpungan batin  Dulkamid memikirkan apakah betul Allah itu ada. Kalau benar ada, kenapa sampai setua ini dirinya belum sekali pun ketemu dengan Tuhannya? Pipi peotnya kemat-kemut sambil mbolak-mbalik badan di atas kasur. Malam itu dulkamid benar-benar resah karena merisaukan-Nya.

Siang tadi Dulkamid bertemu dengan seorang ilmuwan. Dalam pembicaraan singkat, teori yang diSampaikan ilmuwan yang katanya sudah lima puluh tahun lebih melakukan penelitian tentang sel dan susunan harmoni alam, mampu menggoyahkan keyakinan Dulkamid. Menurut teorinya, bahwa proses kejadian alam ini adalah terjadi dari Serangkaian peristiwa yang serba kebetulan. Materi yang masih dalam wujud atom-atom mengambang bebas kemudian menyusun dengan sendirinya menjadi tumbuhan, hewan, manuSia, planet-planet dan seluruh struktur berikut siStem kerja alam ini menjadi jagat semeSta. Tuhan? gak ada tuhan. itu hanya khayalan sekelpmpok manusia yang tengah berproses menghadapi kesulitan hidup.

"ah.....,'' desah Dulkamid resah. ''Aku harus bertemu dengan orang yang biSa mempertrmukan aku dengan Tuhan!'

Repet-repet, Dulkamid keluar rumah. Menyusuri tepian kali gung yang airnya tengah mengalir deras. Dihirupnya udara pagi yang segar. Embun di dedaunan nampak seperti buliran permata yang meneteS-netes. Irama air kali gung begitu damai. Dulkamid menikmati semua itu dengan hati yang galau. Benarkah semua ini hanya proSes alam semata, atau kah ada sang Maha Mengatur yang telah menciptakan Semua ini?

Dari arah berlawanan terlihat serombongan orang memakai pakaian serba putih. Di leher mereka maSing-masing melingkar sorban putih. mereka adalah Kiai Shomad dengan beberapa orang Santrinya. Tergopoh-gopoh, Dulkamid menghampiri mereka. "assalaamu alaikum, Pak Kiai!"

'Waalaikum salam,' jawab Kiai Shomad dengan para santrinya serempak.

'Pak Kiai, kulo nyuwun dipun paringi ilmu,' ujar Dulkamid seraya mencium tangan Kiai Shomad.

Kiai Shomad mengerutkan keningnya yang memang sudah berkerut karena dimakan usia. ''ilmu apa Mbah Dulkamid?''

'Pak Kiai, kulo mboten yakin menawi Allah puniko wonten wujude.'

Pak Kiai dan para santrinya terperanjat. 'Astaghfirullah.....,' gumam Kiai shomad.

'Pak Kiai, kulo mboten badhe percados Allah puniko wonten menawi kulo dereng ningali ngangge mripat kulo piyambaki"

''Mbah Dulkamid, banyak benda di dunia ini yang tidak biSa dilihat dengan mata manusia. Mata Sampeyan itu kemampuannya terbatas. Coba sampeyan lihat ke langit, di Sana ada milyaran benda yang Sesungguhnya ada tapi tak seorang pun biSa melihatnya karena jaraknya sangat jauh.

'Pak Kiai, tapi menawi ngagem pesawat ingkang canggih saged nyedaki  benda meniko.''

''Baiklah, kalau begitu. Mbah Dulkamid pasti sudah tahu, bahwa ada benda-benda yang tidak bisa dilihat mata karena bentuknya yang teramat kecil, namanya molekul.  Bahkan nukleus yang beSarnya seukuran dengan rambut dibelah satu juta bagian. Walau pun kiTa tidak bisa melihatnya karena bentuknya yang sangat kecil, tapi Mbah Dulkamid yakin kan kalau semua itu ada?'

'NggIh leres Pak Kiai. Nanging menawi ngagem mikroskop ingkang kuat sanget, saged mawon ketingal,' ujar Dulkamid ngeyel.

Pak kKai manggut-manggut seraya berpikir keras bagaimana cara meyakinkan kaki-kaki peot ini. Akhirnya beliau berujar lagi, ''Mbah, sampeyan percaya kan ada yang namanya gelombang baik gelombang radio, elektro magnetik mau pun listrik? Kita bisa merasakan kehadirannya, dan kita yakin bahwa semua itu ada walau pun mata kita tidak bisa melihatnya.'

'Kulo dereng  yakin, Pak Kiai. Amargi menawi gelombang-gelombang meniko taksih saged dirasakan keberadaannya. Sedangkan Allah sing jare wonten niku mboten saged dirasakan lan mboten saged dipun candak ngagem alat punopo mawon.''

Sejurus Kiai shomad hanya geleng-geleng kepala. lemudian katanya, ''Semua yang sudah aku sebutkan tadi adalah hanya mahluk. Kalau untuk melihat mahluk saja mata kita sangat terbatas, bagaimana mau bisa melihat Sang Penciptanya?'

Dulkamid hanya terdiam. Wajahnya nampak maSygul. Dalam batinnya bergejolak, ' Tuhan memang tidak ada. Kiai Shomad yang terkenal alim dan sangat menguasai agama saja tidak tahu cara untuk bertemu tuhan.

Akhirnya Kiai Shomad melanjutkan bicaranya kembali, 'Allah tidak terjangkau dengan apa pun yang dimiliki malhluk.''

''tapi, pak kiai.....'' Dulkamid terpotong kata-katanya. nampaknya ada keraguan untuk mengatakan sesuatu.

'Jadi benar Sampeyan mau melihat Tuhan?''

''Betul, pak Kiai.''

''Baiklah kalau begitu,'' ujar kiai shomad seraya memberi isyarat kepada para santrinya.

DUlkamid tergagap ketika beberapa orang santri kiai Shomad tiba-tiba mnengepung dan meringkuS dirinya. Sorban para Santri kini melilit di tangan dan kaki dulkamid. dulkamid berontak dan berteriak-teriak, tapi sia-sia. tiba-tiba, byurrrr......!!! Tubuh tua Dulkamid dilempar begitu seja ke tengah arus kali gung yang deras mengalir dengan tangan dan kaki terikat erat.

''Tulung, tulung! Tuluuuung....!! teriak Dulkamid. Tubuhnya hanya menggeliat-geliat tak berdaya terbawa arus yang deras.

''Percuma kamu teriak-teriak dulkamid! Di sini sepi. Hanya ada aku dan santri-santriku,'' teriak kiai Shomad yang mengikuti Dulkamid hanyut dari pinggiran kali gung. Sementara Dulkamid timbul tenggelam dalam dinginnya air kali gung di pagi hari. Tenaganya Segera terkuras habis. tubuhnya semakin lunglai. Teriiakannya parau.

Dulkamid pasrah. Ketakutan yang sangat datang menyergap. Tubuhnya seperti kapas yang terhempas-hempas tanpa daya. Di saat yang sangat kritis, di tengah keputus-asaannya, Dulkamid bergumam lirih, ''ya Allah tolonglah hamba-mu ini......!''

Dan tanpa dikomando lagi, dua orang santri melompat ke tengah sungai dan menarik tubuh lunglai Dulkamid ke pinggiran kali gung yang  tetap sunyi.



WARNING;

Dulkamid hanyalah tokoh fiktif rekaan penulis semata. Kesamaan nama, tempat dan peristiwa sungguh tanpa adanya unsur kesengajaan. Intisari cerita dari episode ini sebagian adalah rekaan penulis dan sebagian lain mengambil dari kitab-kitab klasik, dengan tanpa maksud tertentu kecuali untuk ziyadatul khoir dari Sebuah hikmah.  Karena kebodohan penulis saja sehingga judul kitabnya tidak bisa dituliS di sini. Mohon korekSi dari dari para alim dan ahli sekalian. Terima kasih.

0

anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag. 3

Dulkamid 
@rumah makan Dewi Sri

Dewi Sri pun berangkat. Dulkamid kelap-kelip tak bisa merem blas! Duduknya tidak tenang. Hatinya kebat-kebit. Kekhawatiran menyeruak, di mana dan kapan sampai di rumah makan Dewi Sri. Sebab di sana nanti dirinya akan bicara dengan kernet bis minta di pindah ke bis Dewi Sri lain yang menuju ke terminal Grogol. Baginya ini penting karena jika sampai terlewati dia bisa tersesat di belantara jakarta!

Setelah sekitar menempuh perjalanan empat jam, bis Dewi Sri yang di tumpangi Dulkamid memasuki sebuah rumah makan. Dulkamid langsung bertanya kepada orang berkopyah hitam yang duduk di sampingnya, yang sepanjang perjalanan tadi diam membisu. Mungkin masih mangkel dengan peristiwa nasi rames tadi.

"Mas, ini rumah makan Dewi Sri?" tanyanya. Yang di tanya hanya menggumam dan mengangguk sambil membuang mukanya ke arah samping. Tak peduli dengan sikap teman seperjalanannya tadi Dulkamid langsung menghampiri kernet bis. "Mas Kernet, aku minta di pindah ke bis Dewi Sri yang ke terminal Grogol!" ujarnya.

"Oh, sampeyan mau ke Grogol?"

"Iya, betul!" jawab Dulkamid tegas.

"Nah, sampeyan......," bicara sang Kernet terhenti karena matanya sibuk mencari sesuatu. "Itu! Sampeyan ikut orang yang pake baju merah."

"Yayaya.... ," jawab Dulkamid cepat. Tanpa basa-basi lagi Dulkamid langsung memburu orang berbaju merah yang ditunjuk kernet tadi. Tapi kemudian dia kebingungan. Ternyata orang yang berbaju merah dan kernet bis bukan cuma seorang tapi semua kernet di situ mengenakan baju merah. Apa lagi di tambah ramaianya penumpang yang campur baur membuat Dulkamid kebingungan menentukan mana orang yang ditunjuk kernet tadi.

Akhirnya Dulkamid menghampiri salah seorang kernet bus berbaju merah. "Mas. Mas....." belum selesai ngomong yang ditegur berkata, "Sampeyan Pemalang?"

Dulkamid mengernyitkan dahi. Dia pikir mungkin maksud kernet tadi menanyakan apakah dia naik dari Pemalang, makanya dia buru-buru menjawab, "iya!"

"Ayo ikut aku!" ajak si Kernet.

Memasuki bis lain dengan mendapatkan kursi duduk, Dulkamid plong. Girang dan tenang hatinya. Makanya kemudian ketika baru saja bis keluar dari rumah makan, Dulkamid sudah pulas. Ramainya lalulintas pantura siang hari ditambah sering adanya jalan-jalan yang padat di beberapa titik konsentrasi sama sekali tak menggemingkan tidur Dulkamid.

Setelah bis melintasi jarak ratusan kilometer, Dulkamid terbangun. Ternyata bis sedang melambat karena memsuki terminal.  Dulkamid pikir, ini dia yang namanya terminal Grogol! Tapi kok, seperti pernah aku lihat? batin Dulkamid. Dia melihat, bangunan terminalnya, jalanannnya, warung-warung yang nampak kumuh dan, para tukang becak!

Becak? Kan di DKI becak di larang? Masa terminal Grogol ada becak ngetem? Tiba-tiba Dulkamid merasa seperti tersambar
petir. ketika kernet bis berteriak lantang, Pemalang habis, Pemalang habis!!!!

HABIS

0

anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag.2

 Dulkamid
 @bis Dewi Sri



Satu jam menunggu, bis Dewi Sri warna putih jurusan Pekalongan - Pulogadung pun datang. Dengan jalan terhuyung-huyung Dulkamid langsung naik ke dalam bis. Ternyata masih banyak kursi kosong. Dulkamid memilih kursi jajar tiga persis di belakang sopir. Dia memasukan traveling bag-nya ke dalam rak di kabin bis. Sementara tas kresek hitamnya dia taruh di pangkuan. Rupanya kresek itu berisi nasi bungkus bekal makan siang di jalan.


Dulkamid menoleh ke arah para penumpang lain yang sudah duduk manis. Sebagian dari mereka nampak terkantuk-kantuk. Diamatinya satu persatu penumpang. Tak satu pun dari mereka yang menarik perhatiannya. Dulkamid entah kenapa, selalu bersimpati dan menaruh hormat jika bertemu dengan seorang lelaki berkopyah hitam, baju koko dan bermuka bersih. Atau wanita dengan kerudung besar yang menutupi dadanya dengan muka anggun dan selalu merendahkan pandangannya kepada setiap lelaki.Dulkamid pikir, pria atau wanita seperti itu pastilah seorang ahli agama yang taat beribadah. Makanya Dulkamid akan langsung tertarik hatinya dan menaruh hormat.

Tapi tak seorang pun dari mereka yang menunjukan ciri-ciri tersebut. Ada yang berkopyah hitam tapi mukanya lecek seperti uang ribuan lama. Ada pula wanita berjilbab tapi pamer tonjolan dada yang membusung dan mukanya pendirangan menantang.

Ternyata bis yang ditumpangi tidak segera berangkat. Mungkin masih menunggu tambahan penumpang. Tiba-tiba Dulkamid bangkit dari duduknya, menaruh tas kresek di atas kursi, dan turun dari bis. Rupanya dia berjalan mencari toilet.

Ketika Dulkamid kembali ke tempat duduknya ternyata ada seorang lelaki menduduki kursi pinggir jendela yang tadi didudukinya. Lelaki itu berkopyah hitam dan mengenakan baju koko warna dadu. Mukanya bersih dan nampak santun sekali. Dulkamid tersenyum dan mengangguk hormat ke orang tadi dan menjabat seraya mencium tangannya. Lelaki itu nampak sungkan dan bingung. Dia nampak kaget tiba-tiba dijabat dan dicium tangannya oleh lelaki yang usianya jauh lebih tua dari dirinya.

"Nuwun sewu, panjenengan kiai?" tanya Dulkamid dengan sangat sopan.

"Bukan," jawab Si Lelaki dengan wajah keheranan.

"Kalau begitu ustadz?" tanya Dulkamid lagi.

"Juga bukan," makin heran lelaki itu menjawab.

"Oh, guru ngaji?"

"Bukaaaan....!"

"Santri?!" tanya Dulkamid lagi. Kali ini dengan nada tinggi seperti menahan amarah.

Yang ditanya menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Tak dapat ditutupi wajahnya yang bingung dan panik terhadap sikap orang tua renta yang berdiri persis di depan wajahnya.

Dulkamid manggut-manggut. Katanya, "Kalau begitu sampeyan kiye wanyad dobol, ya?! Wanyad sialan!" Dulkamid betul-betul menunjukan kemarahannya sekarang. Teriakannya keras sehingga mengundang perhatian penumpang lain.

Bukan main kagetnya lelaki berkopyah hitam tadi. Dia tak menyangka bakal dibentak dan diumpat lelaki bungkuk  bau tanah itu. Refleks, lelaki berkopyah hitam bangun dari duduknya. "Apa maksud sampeyan membentak aku? Apa salahku?" hardiknya dengan berkacak pinggang.

Dulkamid malah tambah membara amarahnya. Tangannya menunjuk ke hidung lelaki berkopyah dan teriaknya, "Sampeyan merebut kursiku dan menduduki nasi ramesku!"

Kali ini lelaki berkopyah hitam nampak kaget dan menengok ke tempat di mana dia tadi menaruh pantatnya. Ternyata ada nasi bungkus yang sudah penyek dan nasinya memburai ke mana-mana. Pantes dari tadi empuknya aneh, pikirnya.


0

anekdot tegalan : Dulkamid Pergi Ke Jakarta bag. 1

 Dulkamid 
@terminal Pemalang

Jam 8 pagi Kaki Dulkamid sudah angkluk-angkluk di kursi panjang yang berada di pelataran terminal Pemalang. Tubuh tuanya yang bungkuk duduk manis sambil srupat-sruput rokok Dji Sam Soe kesukaannya. Hmmm..... mantap! Apalagi ditingkahi udara pagi yang sejuk karena  ruwicek hujan semalaman.

Kaki Dulkamid berencana pergi ke Jakarta untuk menyambangi seorang keponakan yang menjadi pengusaha warteg di daerah Jelambar. Pesen sang ponakan, Dulkamid naik Bis Dewi Sri jurusan terminal Grogol yang lokasinya tidak jauh dari Jelambar. Nanti, Abror sang ponakan akan menjemputnya di terminal naik motor.

Di pangkuan Dulkamid ada traveling bag warna hitam, dan di sampingnya ada sebuah tas kresek warna hitam pula.Tepat tak jauh dari kaki nya seekor anjing besar duduk sambil menjulurkan lidahnya yang panjang.Bulunya coklat mengkilat dan di bagian leher bawahnya berbulu putih sehingga mirip dasi. Tiba--tiba seseorang datang menghampiri Dulkamid.

"Mbah, ke Jakarta?"

Kaki Dulkamid melengos. "Mbah, Mbah! Memangnya kapan aku nikah sama Mbokmu?!" katanya ketus.

Orang yang ternyata adalah calo bus terdiam bengong. "Oh, ya maaf. Ke Jakarta Pak?"

"Om!"

"Oh ya, deh. Ke Jakarta Om?"

"Enggak!"

"Memang mau ke mana, Om?"

"Grogol!" tukas Dulkamid yang membuat Si Calo bengong lagi.

"Ya kan sama saja Jakartanya, Om?"

"Bis Apa?" tanya Dulkamid.

"Sinar Jaya Patas, Om. Langsung Grogol," jawab Si Calo bersemangat.

"Emoh. Aku cuma mau numpak Dewi Sri."

Si Calo mengerutkan keningnya, kemudian katanya, "Sinar Jaya yang mau jalan duluan Om..!"

"Emoh, pokoke Dewi Sri sing maring Grogol." tegas Dulkamid.

Datang lagi seorang calo bis menghampiri Dulkamid sambil menyodorkan tiket bertuliskan Dedy Jaya. "Langsung terminal Grogol patang puluh ewu pan mlayu saiki," katanya dengan gaya yang sangat meyakinkan.

Dulkamid memperhatikan sejenak tulisan Dedy Jaya pada tiket yang disodorkan kemudian melengos geram. "Pokoke Dewi Sri sing maring Grogol! Mene karcise, satus ewu ya tak bayar!" katanya.

Dua orang calo bus itu hanya berpandangan kemudian salah seorang dari mereka berteriak memanggil temannya. Ternyata kali ini adalah calo bus yang di tunggu Dulkamid. Melihat tulisan Dewi Sri, tanpa pikir panjang lagi Dulkamid langsung menyerahkan selembar uang ratusan ribu. "Tapi ini tiket bis ke Pulogadung. Nanti kalau istirahat di rumah makan sampeyan di pindah ke bis Dewi Sri yang ke terminal Grogol, ya?" ujar calo bus Dewi Sri. "Sementara sampeyan duduk di sini dulu nunggu bisnya datang dari Pekalongan ya?"

Dulkamid hanya mengangguk dan menyelipkan tiket bis itu dengan hati-hati ke lipatan kopyah hitam yang dipakainya. Dua calo bis yang ditolak hanya tersenyum kecut. Tiba-tiba mata mereka melirik ke anjing yang sedari tadi duduk anteng dekat kaki Dulkamid. Mereka seperti tergoda dengan kemolekan bulu anjing yang coklat mengkilat. Apa lagi bulu putih yang memanjang di bagian bawah lehernya sehingga mirip seperti dasi. Lucu sekali.

"Anjing sampeyan gigit nggak, Om?" tanya calo bis Sinar Jaya seraya jongkok dekat sang anjing.

"Enggak!" jawab Dulkamid singkat dan tegas.

Calo bis Dedy Jaya pun ikut jongkok tergoda pengin mengelus punggung sang anjing. Ketika tangan mereka menyentuh tubuhnya, di luar dugaan anjing itu bereaksi dengan beringasnya, Dia menyalak sangat keras dan melompat menerkam dua orang calo bis itu. Untunglah mereka cukup sigap. Mereka berkelit dan lari tunggang-langgang.

"Orang tua tak tahu diri! Kaki-kaki penyok!" umpat mereka kepada Dulkamid dengan tubuh bergetar saking marahnya.

"Hai! Jangan sembarangan sama orang tua ya!?" bentak Dulkamid sambil berdiri. "Apa salah saya?!"

"Sampeyan tadi bilang kalau anjing sampeyan tidak galak. Ternyata hampir saja muka saya diterkamnya!" teriak calo Sinar Jaya.

"Dasar kalian yang goblog! Compong! Ini bukan anjing saya. Anjing saya ada di rumah!"




0

anekdot tegalan : Dulkamid Show 9

Malam keduane manten  Dulkamid udan ruwicek. Sing arane wngin mobat-mabit kaya neng PAI. Biasa, listrik langsung mati pet. Dulkasmid ngondong awit sore. Lagi gerilya kali, ya? 

Mendekati tengash melam rumah mertua Dulkamid sudah senyap. Semua penghuni rumah sudah pada lelap kelelahan.Hanya suara dengkuran yang saling bersahut-sahutan dari segala penjuru rumah. Maklum, di rumah itu masih banyak famili  yang menginasp. Hasnya lampu ceplik yang diletakan di beberapa sudut rumah nampak kelap-kelip.

Kesenyapan malam mendadak terusik dengan teriakan dari ruang tamu. "Mal, Maling! Maling! Maliiiiing....!" Rupanya salah seorang kerabat yang nginep nglindur. Walau hanya igauan, sontak membuat riuh seisi rumah. Beberapa orang langsung terbangun dan berlarian ke sana kemaei. "Endi malinge,  endi malinge?"

Tak ayal Kaki Dulkamid pun tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya. Badanya yang bungkuk, bergerak-gerak mencari. Tiba-tiba Dulkamid melihat kelebat tubuh seseorang yang bergerak cepat ke arah dapur. Dulkamid berjalan mengendap-endap. Rupanya dia bermaksud meringkus orang yang diduga maling. Untuk hal ringkus meringkus orang Dulkamid lumayan berani sih. Soalnya aku sebagai perngasuh sekaligus bodyguardnya sudah membekali  dengan judo dan taekwondo.

Tak berapas lama, Dulkamid sudah bisa membaca situasi. Nah ketika sosok tubuh itu berada di posisi siap serang, dengan sigapnya Dulkamid melakukan serangan. Sekali gebrak tubuh dalam gelap itu berhasil diringkus. Dengan tangannya, Dulkamid mengunci leher dan tangan orang yang diduga maling.

"Pan maring ndi kowen, Maling? hardik Dulkamid.
"Uhf, uhf! cuul, culna....!"
"Apa? culna? ora bakalan!" Jepitan tangan Dulkamid tambah kuat yang membuat orang itu tasmbah gelagepan dan tak bisa bersuara.
"Uh.... ahg...!"
"Apa luh? Uh, uh..... Hei, kyeh malinge wis tak cekel!"
"ak u dudu maling. Aku kasan."
"Kasam kasan sapa? Kasan wis mati."
"Culna, aku kasan. Aku pan mutah kyeh. Hwah....hwah...
"Mutah owh!"
"Mambune apek nemen, culna gpoblog!"
"Eh, ka wani-wanine mpoyoki aku yah...!" Dulkamid kembali mengetatkan jepitasn tangannya.

Keluarga yang lain pun berdatangan ke arah dapur. "Endi malinge?"
Salah seorang di antara mereka mengambil ceplik dan mendakatkan ke arah wajah orang yang dalam jepitan kelek Dilkamid. "Heh, kiye dudu maling. kiye Kang Kasan!" teriaknya.

Dulkamid bingung. "Kasan sing endii?"
"Mertuamu!"
 Dulkamid langsung melepaskan jepitannya dan undur beberapa langkah.

Kasan mertua Dulkamid langsung mukok-mukok. "Dasar masntu edan, Laka sopane. Keleke mambune endrim nemen. Bwuah, bwuah .....!"

0

anekdot tegalan : Dulkamid Show 8

Nyong rada lego koh, walau pun ada sedikit insiden yang cukup memalukan, tapi syukur alhamdulillah pernikahan Kaki Dulkamid bisa terlaksan. Tapi rada ketar-ketir juga sih, piben carane Dulkamid ngasah gobange. Mbuhlah urursan kuwe dadi urusan internal merekalah. Aku sebagai pengasuhe ya cukup ngindangi bae wis.

Lega tapi masih ada ganjalan juga. Sebabnya yang namanya Dulkamid itu kaki-kaki yang tidak bisa jadi teladan blas. Mecak langgar atawa masjid be ora tau. lah banukan olih bojo umahe pas neng empere masjid.. Lah kiye primen urusane. Aku watire mbokan dewekw tambeng. wis ana adzan, ana puji-pujian ngentang-ngenting deweke ngondong bae. bisa dari omongan sing ora apik.

Lah jebule, aku keliru. Nembe bae bangun-bangun suara sing langgar nggugahi wong dikon pada siap-siap sholat shubuh, eh Dulkamid langsung metu siing kamar. Adus gebyar-gebyur (apa adus junub? Loken ya gobange bisa diasah? hahaha....} Ora let suwe, Dulkamid metu nganggo klambi koko putih sing gemebyar nemen warna putihe. Ana kelap-kelipe warna emas. Pokoke ndean klambi sing larang nemen. Sarung samarenda, cindung ireng mlipis toli kalungan sorban. Wuih, kaya santri tebuireng pan khotbah pokoke.  Aku sebagai pengasuhe ya bangga dong.

Lah manjing masjid kok langsung njagong. Donge tah sholat tahiyatul masjid disit atawa sunah fajar. Rong rokaat ya ora papa. terus lungguh sing tumakninah karo diniyati iktikaf. pan karo wirid, ya kena.  Dulkamid, dulkamid. Kesinge thok sing  Blekberi jebule njerone hape china. Njagonge katon khusyuk nemen karo muter-muter tasbih. cangkeme komat-kamit. Ngarti ora donge sing diwaca apa.

Ora antara suwe, tungtunge ditabuh tandane wis mlebu shubuh. Beberapa jamaah nampak bisik-bisik dan tangannya nuding-nuding naring Dulkamid. Gawat, aja-aja..... "Monggo, penganten anyar adzan," ujar salah seorang anggota jamaah dengan sikap yang sangat sopan.

Waduh! Kweh ya! cilaka mencit kyeh.  Kaki Dulkamid nampak terperanjat. Kepalanya nengok kanan kiri sambil  tangannya nunjuk ke orang-orang di sekitarnya. Tapi yang ditunjuk malah menyorongkan telapak tangannya ke arah Dulkamid. Dulkamid nampak keder karena semua mata melihat je arahnya. Akhirnya dia pun bangun dari duduknya dan dengan tangan bergetar menerima mikropon yang disodorkan kepadanya.

Langkah kaki dulkamid gontai menuju mihrab. Badan tuanya nampak semakin bungkuk saja. Dalam hatinya kebat-kebit perasaan campur aduk. Andai bisa, pingin dia lempar mikroponnya  dan lari sejauh-jauhnya. Akhirnya dengan tangan bergetar dan dada berdetak hebat, mikropon itu pun didekatkan ke bibir tuanya yang hitam karena rokok.

Tanpa aba-aba lagi, suara Dulkamid melengking parrau meneriakan, "Allaaaahu akbar, Allaaaaaahus shommmad!"

Sejenak para jamaah tertegun. Kemudian saling berpandangan.  Tawa keras pun meledak tanpa bisa dirfedam. Kaki Dulkamid celinguikan tak mengerti. Mimiknya memelas sekali. Dulkamid, dulkamid!

0

anekdot tegalan : Dulkamid Show 7

Dulkamid, Dulkamid.....jare aku wong sampeyan wis wayah mambu lemah ora usah macem-macem. Nang umah bae ora usah pladangan maring ndi-ndi ora. Nyong sebagai pengasuhe kayong ngrasakena mopo nemen

Mentang-mentang cekel duit sendiri, Kaki Dulkamid karepe plesiran bae.  Nah, sekarang Dulkamid nguja  plesiran naik kapal laut nyebrang pulau. Di kapal yang dinaiki Dulkamid, terdapat serombiongan keluarga yang terdiri dari kakek nenek, bapak ibu, paman bibi juga anak-anak.

Karena  berjumlah banyak, justru mereka kurang kontrol terhadap anggota keluarganya.. Sampai-sampai mereka tidak menyadari ketika seorang anak laki-laki berusia 5 tahun, salah seorang anggota keluarga mereka, krekelan bibir kapal kemudian terperosok dan nyemplung ke laut. Ibu si anak belum apa-apa seduprak terus pingsan. Bapaknya juga tidak punya nyali untuk menyelamatkan anaknya yang sudah terombang-ambing ombak. Tangan kecilnya hanya sesekali terlihat menggapai-gapai.

Tak seorang pun dari keluarga dan saudaaranya yang berani mengambil tidakan. Penumpang lain hanya tertegun. Kaki Dulkamid cuma bengong. Sesekali mulutnya yang berbibir hitam karena banyak ngrokok itu komat-komat. Mbuh jawale maca apa. Jangan-jangan teks proklamasi sing diwaca? soale deweke kan bodo, alif bengkok be ora ngarti. Sampeyan ngarti, Wa?

Suasana bertambah heboh dengan teriakan histeris dari orang-orang yang ada di kapal, ketika dari jarak tidak begitu jauh terlihat tanda-tanda seekor ikan hiu datang mendekati bocah laki-laki itu. " Aduh, kulup, kulup! kowen ka apes temen.......!!!" jerit  neneknya .

Ayah dan kakek si bocah hanya berlari ke sana ke mari meminta pertolongan kepada semua orang yang ada di kapal. "Ayuh Mas, dituluingi, ditulungi! Mumpung hiune esih adoh. Ditulungi, ditulungi!!!" teriak mereka. Tapi tidak seorang pun yang bergeming.

Di saat yang begitu genting,, tiba-tiba seseorang dengan gagah berani terjun ke laut. Byur....!!! Lalu dengan sigapnya dia menarik si bocah ke dekat kapal, diiringi teriakan semua orang karena ikan hiu itu sudah sangat dekat. Orang-orang dengan serta merta melemparkan tambang dan menarik si penolong dan si  bocah ke atas kapal.

Ketika sampai di atas kapal, semua orang terhenyak. karena sang penolongnya adalah seorang kakek-kakek, peot, dekil dan mukanya keruh.  Ajibnya lagi, dia tak lain adalah Kaki Dulkamid. Ya Kaki Dulkamid ceteme ente, Wa  Wuih, nyong ngrasakna bangga. Sebagai pengasuhe Dulkamid, nyong deleng jebule deweke nduwe jiwa kepahlawanan yang luar biasa. (Kiye nyong ngetike karo gedeg-gedeg, sung!)

Kaki Dulkamid langsung dirubung wong-wong. Watuke ngikil kaya kikile ruimah makan padang. Maklum ndean kakean ngeleg banyu segara. Bapa karo ibune bocah langsung mburu Dulkamid. "Makasih, ya Mbah. Makasih banyak, Mbah!" ujar suami istri itu.

Ajibe Dulkamid malah dugal."Mbah, mbah dengkulmu koplak! " sungut Dulkamid murka.

"Sih bisane dugal, Mbah?"
"Om!!!"
"Ya wis, terima kasih ya, Om."
"Om Dulkamid!"
"Iya, Om Dulkamid! Terima kasih, Om Dulkamid. Sebagai tanda terima kasihe nyong sakeluarga, sampaeyan pan jaluk apa?"
"Ora!"
"Duit, apa motor?"
"Duit aku nduwe akeh. Motor tiger be nduwe kuh!"
"Sih sampeyan pan jaluk apa?"
Nenek si bocah yang sedari tadi cuma diam, ikut menimpali. "Mbokan sampaeyan karep bojo ya aku nduwe anak wadon randa sing umure  nembe umur 50 tahun. Sampeyan gelem?
"Bwah, bwah! Najis tralala! Nyai-nyai sih pan kanggo apa. Belih! Nyong belih gelem!"
"Sih sampeyan pan jaluk apa?" tanya  Bapane bocah sudah gak sabar.
"Nyong kur pan takon!" kata Dulkamid. Orang-orang pada saling berpandangan.
"Takon apa?"
"Mau sing njorogna nyong sapa?" kata Dulkamid dengan sangat emosi. Sampe-sampe dadanya menggeh-menggeh nahan amarah.

Walah Wa, Wa..... tak kira sampeyan hero jebule kodok nyemplung kali.

0

anekdot tegalan : Dulkamid Show 6

#anekdot tegalan: DULKAMID SHOW 8

oleh Ahmad Sobany pada 4 September 2010 pukul 12:12 ·
Nyong lagi kayong mumet nemen kyeh. Apa lagi kalo bukan masalah Kaki Dulkamid. Nacak ente pikir, masa umur be wis 88 tahun jaluk mbojo maning? Halah-halah....! Nyong dewek be durung laku-laku.

Yang lebih edan mintanya sama gadis dua puluh tahun. Tapi dasar memang wong sugih, walaupun batrene  wis kiyep-kiyep ana bae bocah wadon nom ayu sing gelem. Padahal tah ndean bekakase wis karatan. Ya wis 50 tahun ora dienggo? Angger bekakas niyeng loken esih bisa dienggo wa?

Yang jadi pasal bukan perkara biaya atawa mempelai wanitanya. Semua sudah fix. Tapi justru masalah tatacara ijab kabulnya. Sampeyan kan wis ngarti, Dulkamid kiye ora tahu mambu padung. sama sekali ora ngarti angka apa maning huruf. Angger duit tah apal nemen. Oleh pirang dina nyong kesel nemen ngajari cara-cara ijab qobul. wis kaya kuwe jare pengulu neng kene suka reka-reka. sak durunge ijab qobul calon lanange di takoni pirang. terutama rukun iman dan rukun islam.

Saben mbengi tak ringokna deweke ngapalna nang kamar. sampe hari H-ne Dulkamid esih mang-mang bae. gawene komat-kamit ngapalna rukun islam karo rukun iman bae. Kaki Dulkamid njagong neng ngarepe pengulu. nganggo jas karo sarung samarenda.

"Ingkang badhe nikah pundi, Mbah?" tanya pengulune.

Kaki Dulkamid mesem-mesem karo kukur-kukur pilingan. Pak Lebe langsung membisikan sesuatu ke telinga bapak pengulu yang membuatnya terkesima dan terlongo-longo. "Oh, nggih mpun. Acara ijab qobule badhe kulo mulai," kata pengulu.

"Paring asma sinten panjenengan?"
"Dulkamid bin Darip,"
"Panjenengan Islam nggih?"
"Nggih Islam."

"Yuswone panjenengan pinten?"
"Kira-kira wolung dasa wolunan. Wong nyeprote kula niku pas jembatan bonggang niku ambrol.  Kan ndalu-ndalu jawoh ageng, angine mobat-mabit, la niku sikile jembatan keli kebekta toya. Terus wekdal niku toyane lepen gung niku minggah ngantos latare griyane tiyang sepuh kula. wekdal niku...."
"Sampun, sampun. Critane dilanjut mangke malih ggih?"

Pak pengulu jukut ambekan dawa nemen. "Panjenengan lare nomer pinten?"
"Kula lare nomer gangsal."
"Rukun Islam niku wonten pinten?"
"Kali welas!"
"Daning katah sanget nggih? Sih nopo mawon?"
"Enggih, sangkinge keluarga besar. Nomer setunggal wastiah, khojanah, daklan, karimah lajeng.....'

Kaki Dul;kamid kebingungan karena orang-orang disekitarnya tertawa terbahak-bahak.

0

anekdot tegalan : Dulkamid Show 5

Sampean Belum tahu ya, Kaki Dulkamid jebule pernah jadi kenet angkot biru jurusan Tegal-Benjaran. Wonge dewek biasane nyebute, taksi. Taksi kok tanpa argo? Anane nang Tegal thok, saudara-saudaara.  Pada suatu hari, angkot yang diawaki Kaki Dulkamid nggawa penumpang aneh. Dia naik dari Balaikota Lama. Ngakunya orang Pemalang mau ke desa Jengrusi. Usianya kira-kira 55 tahun. Suaranya, maaf, bindeng.

"Mas, Mas meng o tu ung ya, a u diudun a eng de a Eng u si?" katanya ketika angkot mulai laju. Kaki Dulkamid yang dikorog pundaknya sing mburi cuma manggut-manggut.

Angkot pun jalan menyusuri jalan veteran. Nembe sasmpe lampu merah gantung, penumpang itu kembali ngorog pundake Kaki Dulkamid yang membuat Kaki Dulkamid keki.  "Mas, De a Eng usi wis pe ek?" katanya. Kaki Dulkamid cuma menggeleng.

Anehnya sepanjang perjalanan Kaki Dulkamid anteng banget. cuma jari telunjuknya yang nunjuk-nunjuk ke orang-orang yang ada di pinggir jalan. Sampai akhirnya masuk ke jalan Sultan Agung, Si Penumpang asal Pemalang itu lagi-lagi ngorog pundake Kaki Dulkamid. "De a Eng u si esih a oh?" katanya. Kaki Dulkamid pun cuma ngangguk.

Ketika angkot melintas perempatan Kejambon, Si Penumpang nampak mulai panik sekali. Matanya nyalang sibuk banget melihat-lihat ke luar."Set op. set op!" teriaknya. Angkot pun berhenti.

"De a Eng u si sing en i?"

Penumpang pun pun gaduh. "Wah, esih adoh, Pak," jawab seorang ibu yang nampak baik hati. "Sampean njagong bae mengko angger anjog desa Jengrusi sampean diwei krungu."

Penumpang compong  itu mulai tenang. Tangannya menepuk-nepuk pundak Kaki Dulkamid yang duduk di ambang pintu angkot. "Aja ka len ya Mas?" katanya. Kaki Dulkamid pun cuma ngangguk.  Kali ini dia keliatan mulai kesal.

Nyampek di Pagongan, penumpang tadi kembali belingsatan. sibuk banget nengok kanan kiri, depan belakang. Sesekali bangkit dari duduknya sampe-sampe kepalanya yang mbentur kabin angkot tak dipedulikannya. Panik, dan kelihatan gusar sekali. Tangannya menuepuk pundak Kaki Dulkamid. Kali ini dengan tepukan yang keras sehingga spontan Kaki Dulkamid menengok dengan muka berang. "Sing en i de a Eng u si?" katanya sengit.

Kaki Dulkamid cuma menggeleng dengan mata melotot. Si penumpang jadi tambah memuncak amarahnya. Tangannya mengepal dan dipukulkan ke jok mobil. Buk!! Ciitt....! angkot berhenti mendadak karena sang Sopir kaget setengah mati. "Mud un!" bentak Si Penumpang sambil menunjuk ke hidung Kaki Dulkamid.  "Ke et ku ang aj ar! Pan ngej ak byan em?!!"

Kaki Dulkamid segera melompat turun, kemudian berdiri dengan posisi siaga. Tangannya malang kerik dan matanya garang sekali.
Tapi tetap tak sepetah kata pun keluar dari mulutnya. Si Penumpang tak mau kalah garangnya. Di taruhnya bungkusan besar yang dipeluknya sejak tadi kemudian tegak berdiri dengan muka liar macam singa marah. Penumpang lain dan sopir hanya tertegun. mereka menunggu-nunggu apa yang bakal terjadi.

Kaki Dulkamid memberi isyarat dengan kepalanya bahwa dia tak takut dan tak gentar.

"Ko en nan ang a u ya? nge mehna au?"

Kaki Dulkamid tetap diam hanya sikapnya saja yang menunjukan bahwa dia siaga dengan segala kemungkinan.

"Aj a  men ang-men ang a u bin eng! A it ma u i ta oni o a ta u ja ab!  Ko en nge e a u? ngina a u?"

Kaki Dulkamid mendadak jadi kendor. Muka garangnya nampak luruh. Terus katanya, "o ya aya uwe. yoale nyong ya bin eng. dadi nyong a ep ja ab mbo an samp ean jeng el. So ale da yani nyong ma ani!"

Penumpang dari Pemalang itu lang sung tertegun.Kemudian menurunkan tangannya, mengambil kembali buntelannya kemudian naik lagi ke angkot.

Compong!

0

anekdot tegalan : Dulkamid Show 4

Kaki Dulkamid buka toko sembako. Lumayan laris. Melune grosir kelas RT-lah. Padahal wonge tah wangka mbang kana-kana wangka. Tapi erame tokone tetep laris. Pas bedug-bedug, ada seorang gadis kecil di suruh manene  untuk membeli minyak. Mbuh minyak apa.

"Emoh ka Ne, nyong wedi di ganyami Wa Dulkamid. Wonge warang, apa maning lagi bedug-bedug," gejognya bocah wadon miki

"Wis mangkat. wong ora utang ikih. kiye botole!" Manene maksa.

Walo sambil ngedumel bocah  itu pun segera berlalu menuju toko Kaki Dulkamid. Atine kesel dan dendem banget ingat sikap Kaki Dulkamid yang suka kasar dan marah-marah. Di tengah jalan, dia nyari akal untuk membalas sakit hatinya kepada Kaki Dulkamid.. Tutup botole di buka, terus brroot!!! Kurang ajar sekali bocah wadon kuwe. Masa botole diisi entut sing luget nemen. Terus botole ditutup rapet. Krep!

Sampai di depan toko Kaki Dulkamid, bocah wanita mahu gembor atas nemen. "Tuku!!!"

Sampai-sampai Kaki Dulkamid sing lagi mau minum air putih kaget kepentut-pentut. Banyune masuk ke hidung. "Heh, tuyul! Kira-kira owh. memange nyong budeg?"
"Ora kaya kuwe, Wa. Sampeyan durung budeg, tapi kupinge kadang ora krungunan."
Kaki Dulkamid tambah mededeg nemen. "Sayange bocah cenos, angger pada tuwane tah tak piting kowen!"
"Aja kaya kuwe owh, Wa. Nyong mene kan pan mein rejeki."
"Meneh, pan tuku apa?"
"Lenga, Wa!"
"Lenga apa? aja lenga-lenga thok!"
"Mbuh, Wa. Kyeh botole. Nacak dambung owh, mambune lenga apa?"
"Mene, ga mene!"

Sambil menyerahkan botol, bocah wadon yang mblunat itu mundur beberapa langkah. Sementara Kaki Dulkamid membuka tutup botol dan, mak blaaarrrrr! Begitu mencium isi botol. Kaki Dulkamid mutah-mutah karo ngromyah.

"Bocah cilik edan, bocah wadon kentir! ah, ah, ah.....  kaya kiye wong tuwa nggo gledegan!"

Sing diromyahi wis mlayu adoh nemen.

0

Anekdot Tegalan : DULKAMID SHOW 3

Kaki Dulkamid adalah orang terpandang di kampung Jengrusi. Dunya-ne mambrah-mambrah. Tapi  pelitnya bisa njengkriwit sekali. Halah, halah.... (nyong ngetike sampe geleng-geleng kepala). Sampe-sampe enggane bisa, upile pan digawe semur nggo lawuh. (semur upil dicampur lalap godong bodin tah ndean enak yah? Rika wis tau, Wa?).

Kaki Dulkamid sedang pewe, posisi wuenak. Duduk ketengkreng dengan kepal-kepul rokok siong kesukaannya. Jebul ada seorang lelaki berjalan dengan kaki cingklang-cingklang. Mbuh temenan dengklang apa digawe-gawe. (Cara mbuktikena kudune culna asu toli ben ngoyok-ngoyok). Dari assesoris yang dipake, bisa ditebak. Dia adalah seorang pengemis.

"Nyuuwuuuun....!" seru pengemis itu di hadapan Kaki Dulkamid.
"Nyuwun apa?! Laka receh!" jawab Kaki Dulkamid ketus.
"Mbokan ana sega ya kena owh, Wa."
"Sega maninga. Laka!"
"Antor, mbuh jejen apa ya kena owh, Wa."
"Laka! Pokoke laka. Mana merad! Ngganggu tok."
"Banyu putih, Wa?"
"Wis, wis mana merad. Pokoke laka kaiki!"
"Sih sampeyan ora nduwe apa-apa?"
"Ora!"
"Ya yuh melu aku bae," tukas Si Pengemis kalem.
Kaki Dulkamid, berkerut keningnya. "Melu nang ndi?!"
"Ngemis bareng," jawab Si Pengemis kalem sambil berlalu.

Kaki Dulkamid atine mak pyar. sangkingnya gak ada apa-apa yang bisa dipake nyamplong. Ada asbak, tapi eman-eman mbokan pecah.

0

Anekdot Tegalan : DULKAMID SHOW 2

Sore-sore Kaki Dulkamid lagi nyante di teras rumahnya. Kakinya uncang-uncang di atas rusbang. Mendadak di teringat sesuatu, dan memanggil cucunya, seorang gadis kecil yang ladhak.

"Nok, Nok!"
"Primen, Wa?"
"Wedange wis umeb?"
"Uwis, awit mau....!"
"Toli wis dianjingna maring tremos?"
"Ya durung owh, Wa..."
"Sih bisane? Mau kan bapatuwa wis ngandani, angger wedange umeb gagiyan lebokna neng tremos. Mbokan mengko pengin gawe teh atawa kopi kur gari cur...!"
"Esih panas, Wa. Mengko nenteni adem, owh wa!"
"Apah? Sih loken wedang panas didalah neng tremos ngenteni adem? Sih, pan nggo apa?"

Napas tua Kaki Dulkamid tersengal-sengal saking ngodornya. Meh bae copot ya, Wa?

0

Anekdot Tegalan : DULKAMID SHOW 1

Suatu siang Kaki Dulkamid memergoki seorang bocah perempuan sedang mengumpulkan mangga miliknya yang berserakan ke dalam karung.

"Bocah! Kowen lagi apa?"
"Sampean weruh owh, lagi ngumpulna pelem!" jawab bocah perempuan ketus.

"Peleme sapa?"
"Embuh peleme sapa! Nyong ora ngarti!"
"Kuwe peleme inyong! Kowen anake sapa?"
"Anake Man Nashori. Primen sih?"
"Mengko tak tuturna bapane kowen."
"Mana owh tuturna....!"
"Eh, nantang yah?! Tak tuturna temenan eben kowen sisabeti"
"Mana owh! Kae bapane nyong nang nduwur!"

Kaki Dulkamid Menengok ke atas pohon mangga. Dan alangkah terkejutnya dia.

"Eeh, jebule bapane sing nyolongi, anake sing ngumpulna?!"

0

Ngitungnya Gak Pakai Matematika

Selama 20 tahun, sejak kami bertetangga, setiap jam 8 pagi aku melihat dia melintas depan rumahku dengan mengayuh sepeda onta, demikian orang di kampungku menyebut sepeda model lama. Pak Mukmin, boleh kita sebut demikian, pergi memajang kotak kaca berukuran kira-kira 50 cm x 80 cm di trotoar seberang pasar.

Ditungguinya kotak kaca itu hingga jam empat sore. Tak lupa, setiap jam 12 siang Pak Mukmin menutupi kotak kacanya dengan kain, kemudian berjalan menuju musholla. Setelah salat dhuhur, dia menikmati makan siang yang dibawanya dari rumah kemudian beristirahat sejenak. Rebahan di teras musholla. Dia bekerja menjual jasa reparasi arloji.

20 tahun yang lalu dia masih lajang. kemudian menikah dan sekarang memiliki 6 orang anak. Istrinya hanya seorang ibu rumah tangga, sehingga perekonomian keluarga hanya mengandalkan penghasilan Pak Mukmin. Ya, dengan jam 8 pagi keluar rumah dan pulang jam 4 sore serta masih mengendarai sepeda ontanya.

Aku pernah mengajak ngobrol soal kehidupan rumah tangganya. Dia bercerita, saat masih bujangan penghasilan setiap hari hanya cukup untuk makan sendiri, itu pun dirasa sangat pas-pasan. Keinginan untuk membantu orang tua hanya bisa dilakukan sewaktu-waktu dan jumlahnya tidak seberapa. Justru sekarang dengan beban 6 orang anak dan seorang istri, Pak Mukmin merasa tercukupi kebutuhan rumah-tangganya. Tidak itu saja, bersama dua orang adiknya, dia bisa membiayai hidup kedua orang tuanya. Bahkan secara patungan, tiga orang kakak adik itu telah berhasil mewujudkan cita-cita kedua orang tua mereka yang sudah sangat renta untuk pergi ke tanah suci.

Pak Mukmin bisa membangun rumah tinggal walau sederhana. Untuk anak-anak dan istrinya dia membelikan dua buah sepeda motor. Dia sendiri masih setia dengan sepeda ontanya untuk pergi bekerja. Anak-anaknya semua sekolah kecuali si bungsu yang baru berusia 2 tahun. Bahlkn tahun ajaran baru kemarin putrinya yang sulung dia masukan ke sebuah akademi kebidanan dengan biaya daftar ulang sebesar Rp 17.500.000,- Dia bayar kontan, tanpa pakai nyicil. Lagian mana boleh sih daftar ulang sekolah pakai nyicil?

Aku heran, bagaimana cara dia mengatur keuangannya sehingga bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dari penghasilan usahanya yang cuma itu-itunya? *Subhanallah, Mas. Saya sendiri juga bingung. Padahal sumber penghasilan saya Mas tahu sendirilah. Dari awal saya menjadi tukang service arloji sampai hari ini dalam sehari pelanggan yang datang berkisar 3 – 5 orang, paling banter 7 orang. Ngitungnya gak pakai matematika hehe….” katanya sumringah.

Uang segitu tentu saja sangat besar bagi orang seperti Pak Mukmin. Tanpa harus menjual sesuatu atau berhutang. “Iyalah, Mas. Bagi saya sangat besar. Bahkan kalau dilogikakan saya harus menabung beberapa tahun agar bisa terkumpul uang segitu. Tujuh belas setengah juta bagi seorang Mukmin sangat besar…. tapi bagi Allah tak berarti sama sekalil.”

Mengamati kehidupan keluarga Pak Mukmin, aku seperti membaca buku tebal tentang pelajaran hidup. Tentang kuasa Tuhan yang acapkali tidak bisa dicerna otak manusia. Teori-teori barat tentang pertumbuhan penduduk yang selalu pesimistis terbukti tidak relavan. Hitungan matematis tidak bisa menjangkau limpahan rahmat Tuhan kepada makhluk-Nya, sebagaimana janji-Nya dalam Al-Qur’an surat Huud ayat 6; "Tidak ada yang merayap di atas bumi kecuali ditanggung Allah rezekinya. Dan Allah mengetahui tempat tinggal (habitat) mereka, Allah mengetahui tempat menyimpan rezeki mereka. Semua itu berada di dalam kitab yang nyata (alam semesta)."

Rejeki Tuhan diberikan sejak spermatozoid seorang ayah berada dalam indung telur ibu. Sperma berubah wujud menjadi segumpal darah, lalu berkembang menjadi embrio. Pada saatnya tanpa kita minta, Tuhan menumbuhkan tangan, kaki, rambut, mata, hidung dan instrument-instrument lain dari jasad.

Selain bagian-bagian dari jasad wadhak, Tuhan melengkapinya dengan software super canggih, yakni otak untuk berfikir dan hati untuk merasakan. Kemudian kita lahir dari rahim ibu sebagai bayi merah yang lemah tanpa daya. Rejeki Tuhan pun datang tanpa diminta melalui ayah ibu, sampai pada saat tertentu kita harus mengupayakan sendiri rejeki Tuhan yang tidak bisa kita terima kecuali setelah berusaha.

Cara manusia berusaha untuk menafkahi diri sendiri dan keluarganya adalah dengan bermanuver menggunakan instrument-instrument yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dengan jasad wadhaknya manusia berinteraksi dengan aktivitas yang bermanfaat bagi kehidupannya. Sementara otaknya yang mengatur strategi dan rencana-rencana, hatilah yang menjadi sensor agar semua manuver dan aktivitasnya meraih rejeki bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan di akhirat nanti.

Sesungguhnya Rp 6,7 trilyunnya Century teramat kecil di mata Tuhan. Apa lagi Rp 25 milyanya Gayus atau Rp 14,3 jutanya Kadana. Walau begitu, murka Tuhan akan sangat besar untuk mereka yang telah mendapatkannya dengan tanpa hati.

0

Aku Bongkar Borokmu.....

Katakan padaku, apa saja yang telah kamu lakukan ketika tidak berada di dekatku? Ceritakan kepadaku hal-hal buruk apa yang pernah kamu kerjakan selama ini? Seandainya samua rahasia kamu ada dalam genggamanku, misalnya aku tahu siapa kamu seperti kamu tahu siapa diri kamu, maka boleh jadi kamu akan membunuhku.

Para tokoh, pembesar, ilmuwan, ulama, da’i, rohaniawan dan siapa pun dalam sekejap bisa saja menjelma menjadi tissue lecek yang orang akan menyingkirkannya ke tempat sampah dengan ujung kuku. Performance pribadi yang arif bijaksana, elegan, anggun dan berwibawa mendadak sirna ketika terkuak borok-boroknya di depan umum.

Aib. Siapa sih manusia dewasa yang tidak punya aib? Mereka yang kini mendekam di balik jeruji penjara adalah orang-orang yang bernasib nahas terbongkar aibnya. Ada juga tokoh panutan, kharismatik dan memiliki pengaruh akhirnya cuma menjadi keledai bodoh ketika perbuatan khilapnya di ketahui khalayak.

Aib yang terkuak membuat sorot mata tertahan, langkah yang terhenti dan terpuruknya harga diri. Demikianlah manusia, keluhuran derajatnya selalu di ujung tanduk. Oleh karenanya, manusia yang memiliki kemulyaan di sisi Tuhan hanyalah diukur dari ketakwaannya. Inna akromakum ‘indallaahi atqookum (sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa) QS 49:13.

Begitu vitalnya aib bagi harga diri seseorang, sehingga Tuhan pun menjaga aib hambanya dengan sangat ketat. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ketika kemarau yang sangat panjang Nabi Musa bersama ribuan umatnya berkumpul di sebuah padang pasir tandus. “Ilahi…asqinaa ghoisak, wanshur ‘alaina…rohmatak…..!” Mereka berdoa kepada Tuhan-Nya agar segera diturunkan hujan. Namun hujan tidak juga turun. Bahkan tak sedikit pun nampak tanda-tanda akan segera turun hujan. Sehingga mereka pun mengulangi do’anya sampai berulang-ulang.

Sampai akhirnya Tuhan pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana aku akan menurunkan hujan jika ada di tengah-tengah kalian seseorang yang bermaksiat kepadaku sejak empat puluh tahun yang lalu. Umumkanlah agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah Aku tidak mengabulkan do’a kalian”.

Musa pun segera berseru kepada umatnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Tuhan selama empat puluh Tahun! Tunjukan dirimu. Karena kamulah Tuhan tidak mengabulkan do’a kita!”
Tak seorang pun dari ribuan umat Musa bereaksi. Hanya ada seorang lelaki yang tampak gamang dengan duduknya. Dia menoleh kanan kiri, dan tak dilihatnya seseorang yang berdiri. Sadarlah ia, dirinyalah yang dimaksudkan Musa.

Lelaki itu tetap bergeming dengan sikapnya. Hatinya gundah-gulana. Kalau mengaku, maka aib dirinya akan diketahui semua orang, tetapi kalau tidak mengaku maka Tuhan tidak akan segera menurunkan hujan. Dengan linangan air mata, lelaki itu pun berbisik, “Ya Allah, hamba sudah bermaksiat kepada-Mu selama empat puluh tahun. Selama itu pula Engkau telah menutupi aibku dari manusia. Sekarang hamba bertaubat, terimalah taubat hamba ya Allah!”

Dan Tuhan pun segera menurunkan hujan. Musa yang keheranan pun bertanya kepada Tuhannya, “ Engkau telah menurunkan hujan, pada hal belum ada seorang pun yang berdiri menunjukan diri kepada kami?”

Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan oleh karena hamba yang telah menyebabkan hujan tidak turun.”

“Tunjukan padaku, siapa hamba itu ya Allah?” pinta Musa.

“Wahai Musa, Aku telah menutupi aibnya padahal dia bermaksiat pada-Ku.. Apakah aku akan membuka aibnya setelah sekarang dia taat kepada-Ku?”

Aib, sudah seharusnya tetap menjadi rahasia antara pemilik aib dengan Tuhannya. Siapa pun tidak berhak membongkar aib, bahkan termasuk si pemilik aib sendiri. Tereksposnya aib berarti tersebarnya keburukan di masyarakat yang sangat berpotensi bahaya terlibatnya masyarakat luas dalam keburukan yang sama.

Keburukan yang terus-menerus disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat justru merubah keburukan itu menjelma menjadi sesuatu yang biasa. Hilang kekhawatiran dari bahaya keburukan yang sudah dianggap menjadi sesuatu yang umum.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda, dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka niscaya Allah akan menutupi aibnya ketika di dunia dan di akhirat. An-Nawawi merinci maksud dari hadist ini dalam kitabnya al-Biir wa ash Shilah, menutup aib yang dianjurkan adalah apa bila yang memiliki aib tersebut orang yang dikenal tidak biasa melakukan keburukan dan kerusakan.

Sedang apa bila orang tersebut sudah dikenal sering berbuat keburukan dan kerusakan maka justru harus dibongkar aibnya dan dilaporkan kepada yang berwenang karena dikhawatirkan orang tersebut akan semakin berani mengulangi perbuatannya.

Bahkan untuk seseorang yang telah melakukan dosa besar sehingga atas dirinya bisa dituntut hukuman berat, maka Rasulullah meneladani untuk tidak menjatuhkan had tetapi memberikan kepadanya kesempatan untuk bertaubat.

Anas bin Malik bercerita, suatu ketika datang kepada Rasulullah seorang lelaki seraya berkata, “Wahai Rasulullah, seseungguhnya aku layak mendapat hukuman had, maka laksanakanlah…”

Anas bin Malik berkata, “Dan beliau tidak menanyakan apa yang relah dilakukannya.” Seusai sholat orang tadi mengulangi perkataannya. Rasulullah menjawab, “Alaisa qod sholaita ma’anaa? (Bukankah kamu telah sholat bersama kami?)” Lelaki itu menjawab, “benar!” Dan Rasulullah menjawab, “fainnallaha qod ghofaro dzambak. (sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu.”

Demikian terhormatnya kehormatan seorang muslim, sehingga Rasulullah pun tidak ingin lebih jauh mendengar aib yang telah dilakukan lelaki itu. Melaksanaksanakan hukuman had kepada pelaku dosa besar yang telah taubat tidak lebih penting dari menutupi aib seorang muslim.

Entahlah dengan era kini, yang orang demikian mudahnya mendapat informasi apa saja dari berbagai media apa saja. Bukan hanya informasi yang bernilai berita tetapi juga informasi pribadi seseorang yang mungkin ingin diketahui orang banyak.

Infotainment, misalnya. Sedemikian boomingnya keingintahuan masyarakat tentang seseorang yang disebut sebasgai public figure, sampai-sampa fungsi informasi berubah menjadi tajassus atau mencari-cari sesuatu yang salah dari seseorang.

Sedemikian maraknya infotainment, sampai-sampai prilaku yang sebenarnya luar biasa menjadi biasa. Misalnya, artis A pergi liburan berdua dengan pacarnya ke luar negeri. Pasangan artis B dan C masih belum berkomitmen meskipun sudah kumpul serumah. Atau yang lebih heboh lagi, seorang seleb merasa sedang mendapat anugerah yang sangat luar biasa yaitu mendapat titipan calon bocah dikandungannya. Padahal dia belum pernah menikah, dan siapakah bapaknya? Ada deh!

Boleh jadi, moral yang menyimpang bukan merupakan aib bagi sebagian orang. Karena kehormatan mereka ada dalam tumpukan uang dan gelimang harta benda. Tetapi maraknya pemberitaan tingkah polah mereka setidaknya melahirkan kebimbangan dalam hati maysarakat. Aibkah, atau wajarkah perilaku-perilaku sebagian para seleb yang secara terang-terangan menafikan ajaran agma yang mungkin mereka anut?

Seandainya Tuhan membuka aib para da’i, ustadz atau kiai mungkinkah kita masih mendengar fatwa dan ceramahnya? Seandainya aib para pendeta terbongkar, maka boleh jadi gereja pun tanpa jemaat lagi. Tuhan yang maha tahu saja, menutupi aib para hamba-Nya, tetapi manusia jika sedikit saja mengetahui aib orang lain maka dia akan berteriak-teriak kegirangan, seperti anak kecil yang mendapat layangan lepas....

0

Yuk, Poligami....

Anda ingin poligami? Silahkan saja, karena itu halal dibolehkan agama. Tapi bagaimana dengan istri anda? Saya yakin seratus persen, istri anda pasti ogah dimadu yang membuat anda berpikir ulang untuk mengambil langkah ini.

Dalam pergaulan dewasa ini yang antar lawan jenis berbaur hampir tanpa tabir, sebenarnya poligami bisa menjadi salah satu solusi. Interaksi yang intens di antara lawan jenis mengundang resiko saling ketertarikan fisik mau pun emosional. Mulai dari ngobrol ngalor ngidul, curhat sampai kemudian terjalin hubungan dan saling ketergantungan. Yang satu merasa nyaman dengan yang lainnya. Sehingga di antara keduanya pun sudah menyatu seperti satu jiwa. Jika sudah begini, hanya soal waktu untuk terjadinya hubungan seksual dari keduanya.

Apa bila affair ini melibatkan orang yang sudah berkeluarga berarti telah terjadi suatu tindak perselingkuhan. Yakni pengingkaran janji pernikahan yang dalam Islam disebut sebagai miitsaaqon goliidhon, ikatan (janji) yang sangat tangguh. Allah hanya tiga kali menyebut istilah miitsaaqon gholiidhon dalam al-Qur’an. Pertama, untuk akad nikah (an-nissa:21), kedua, janji para nabi kepada Allah untuk menyampaikan risalah (al-ahzab:7) dan ketiga utnuk menyebut janji Bani Israil untuk mengemban risalah tauhid di dunia, yang kemudian Allah menimpakan gunung ke atas kepala mereka ketika mereka mengingkarinya.

Demikian dahsyatnya janji suami istri di mata Allah sehingga tentu saja mempunyai konsekuensi yang sangat besar seperti besarnya konsekuensi dari janji para nabi dan Bani Isroil. Syariat Islam mengatur bagi pelaku penghianatan janji suami istri jika terbukti serta disertai saksi-saksi sampai melakukan perzinaan maka hukumannya adalah dirajam sampai mati. Berbeda dengan pelaku zina yang masih lajang hanya dicambuk sebanyak 100 kali.

Pernikahan adalah satu-satunya jalan yang sah untuk menuntaskan hubungan lawan jenis agar tidak terperosok ke perbuatan-perbuatan kotor seperti kumpul kebo atau perzinaan. Jadi, inilah kenapa aku menyebutkan bahwa poligami adalah salah satu solusi dari resiko gaya pergaulan jaman sekarang.

Tetapi anehnya poligami banyak ditentang, justru sebaliknya perselingkuhan dan perzinaan dibiarkan marak di mana-mana. Lambat tapi pasti, perilaku free sex menjadi satu pilihan gaya hidup yang lumrah. Dengan kedok privasi masing-masing, semua orang boleh memilih gaya hidupnya. Kampanye massif oleh kalangan anti poligami merubah poligami menjadi momok di kalangan masyarakat luas khususnya kaum ibu. Bahkan dibolehkannya poligami dalam syariat Islam dijadikan salah satu topik menarik untuk menohok Islam oleh kelompok tertentu.

Seakan tradisi poligami sangat kental dengan dunia Islam. Pada hal Islam justru membatasi poligami dengan jumlah maksimal empat istri saja. Hal ini dikarenakan sebelum Islam datang, poligami sudah berlaku secara sporadis di kalangan banyak bangsa, seperti bangsa Yahudi, Persia, Arab, Ibrani, Cisilia dan lain-lain. Pada saat itu poligami dilakukan bukan hanya dua atau tiga orang istri, tetapi bisa puluhan bahkan seorang lelaki bisa beristri hingga ratusan orang.

Kedatangan Islam membawa ajaran yang luwes, dengan guide yang bersahabat. Sebab seandainya pada saat itu secara ekstrim Islam datang dengan menentang tradisi masyarakat yang ada, maka bangsa Arab akan lari menjauh dari Islam. Penetapan hukum Islam pun dilakukan secara tadarruj, yakni tidak melarang poligami tetapi hanya membatasi poligami maksimal 4 orang istri. Itu pun disyaratkan harus bersikap adil di antara para istri dan menggaulinya dengan cara ma’ruf.

Buruknya praktik poligami di masyarakat tidak serta merta bisa dijadikan alasan untuk menolak poligami. Karena bagaimana pun poligami adalah solusi halal dari suatu kondisi dan situasi seseorang yang mungkin sedang serba sulit. Islam membolehkan poligami, tapi dengan syarat-syarat yang tidah mudah dipenuhi. “Tidaklah kamu sanggup bersikap adil kepada istri-istrimu sekalipun kamu sangat menghendakinya”. (QS 4:129).

Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah tegaknya syariat Islam dalam keluarga agar terwujud keluarga sakinah (tenteram), mawaddah (penuh cinta) dan rahmah (kasih sayang). Untuk mewujudkan tujuan ini tentu saja tidak hanya berupa kecukupan materi saja sebagai barometernya. Tetapi justru yang lebih penting adalah terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan immateri seperti kasih sayang, seksual, ketentraman batin dan lain-lain.

Terkait dengan pelaku poligami, mampukah kita memenuhi syarat berpoligami yang telah diatur Islam yakni berlaku adil kepada semua istri? Keadilan bersifat fisikal saja mungkin bisa dilaksanakan asal kita berpenghasilan cukup. Tetapi mampukah kita bersikap adil dalam kebutuhan-kebutuhan yang bersifat perenial dan immateri?

Suatu ketika turun hujan lebat dengan disertai angin kencang dan petir yang sangat dahsyat. Aku berada di luar rumah, sehingga aku buru-buru pulang menemui anak istri, memberi rasa aman dan kehangatan di tengah-tengah mereka. Namun apa bila aku mempunyai dua keluarga, dua rumah tangga, kemana aku harus pulang? Mungkinkah aku bisa membagi rasa aman dan kehangatan secara adil? Aku tidak bisa membayangkan apa bila harus melewatkan momen-momen ketika anak istri membutuhkan aku, ketika saat bersamaan aku harus berada di tengah-tengah anak istri yang lain.

Aku bersama istri sedang menikmati martabak telor kesukaannya. Tanpa terasa ternyata martabak di piring sisa sepotong saja. Sambil melumat-lumat jarinya yang basah oleh minyak martabak istriku berkata, “ambil saja mas. Aku sudah kenyang.” Pada hal aku tahu dia masih ingin menikmati martabak. Di rumahku ada dua kamar mandi. Salah satunya merangkap toilet, dan lokasinya lebih jauh ke belakang. Jika bersamaan hendak ke kamar mandi buang air kecil, istriku pasti akan melewati kamar mandi yang pertama yang lebih dekat dan lebih nyaman agar aku pakai.

Rasa adil seperti apakah yang bisa aku berikan kepada anak-anakku jika aku mempunyai anak-anak yang lain? Begitu cinta dan hormatnya istri kepadaku. Bisakah aku membagi rasa cinta dengan adil jika aku harus menduakannya?

Islam sudah sedemikian rupa mengatur hubungan lawan jenis yang bukan mahramnya, dimaksudkan untuk menghindari terjadinya tindak perselingkuhan. Antara lain seorang muslimah hendaknya menutup aurat, menahan pandangan terhadap lawan jenis, tidak bersolek di depan lelaki lain dan berkhalwat (berdua-duan) di antara lawan jenis yang bukan mahramnya.

Subhanallah. Hanya Tuhan yang Maha Adil. Dia membolehkan manusia berbagii cinta tapi juga membatasi rasa cinta. Boleh poligami, tapi harus bisa adil berbagi. Dan saya hanya manusia biasa, bukan nabi. Saya tak sanggup jika harus berpoligami.

0

Benci Islam Sebenci-bencinya.....

Seorang teman di facebook, meng-invite untuk mendukung gerakan penutupan sebuah blog di wordpress. Karena disinyalir blog tersebut melakukan pelecehan terhadap agama Islam. Sedikit pun aku tidak tertarik untuk bergabung. Hanya saja aku jadi penasaran blog macam apa sehingga seseorang sampai perlu melakukan “gerakan” di ruang cyber. Dan ketika aku membuka blog tersebut, membaca beberapa postingannya, sebagai seorang muslimer, perutku menjadi mual-mual dan pening kepala.

Selain artikel-artikel sampah, blog tersebut juga memasang gambar-gambar karikatur jorok dan tidak bermoral. Dalam hati aku bertanya, manusia macam apa yang bisa melakukan kebodohan dan kebohongan seperti itu. Vulgar banget kebencian dan sikap anti Islam yang disajikan di setiap posting. Muslimer dihina, Muhammad dicaci maki bahkan awlouh ( cara dia nulis Allah) dikutuk. Wal iyadzu billah.

Saya bangga dengan saudara-saudara seiman yang menulis komentar di blog tersebut. Meskipun keyakinan dan syiar-syiar agamanya dilecehkan dengan cara membabi-buta (maaf, kayaknya yang empunya blog ini memang Si Babi Buta hehehe….) tapi tetap memberi tanggapan yang santun dan bernalar. Walau pun ada juga yang kemudian terpancing emosinya oleh provokasi pemilik blog yang menjawab komentar dengan kasar, kampungan, umpatan, jorok etc-etc-lah, anda pasti tahu bagaimana sih tabiat seorang psikopat jika lagi kumat.

Sengaja tidak disebutkan nama blognya di sini, dimaksudkan agar anda yang belum tahu tidak lalu mengunjungi blog tersebut. Kalau disebutkan, anda pasti ramai-ramai mengunjunginya sehingga traffic blog bakal naik, yang artinya bakal naik pula alexa rank dan google pagerank dari blog ini. Bisa-bisa tambah mekar kepala dari pemilik blog. Terus ada yang pasang iklan lagi. Capek deh….

Secara keseluruhan, isi blog ini nampaknya hasil copas dari banyak situs. Termasuk karikatur-karikatur begonoan yang bisa membuat pengunjung muslim naik darah. Tampilan page-nya enak dipandang. Tutur bahasanaya lumayan lancar, enak dibaca. Sayangnya otak penulis dan pemilik blognya hanya berisi sampah dan hatinya hangus terbakar kedengkian kepada Islam.

Seandainya mereka berbeda faham, dan berkeinginan mencari kebenaran, mengapa tidak duduk satu meja dengan orang yang tahu banyak tentang Islam? Adu argumentasi dan berdiskusi secara ilmiah. Lepaskan kedengkian, curiga, stigma dan stereotip dari faith-faith tertentu. Bukan dengan cara mengumpat, memaki, menghujat, menghina kelompok lain yang tidak sepaham. Lebih konyol lagi, mereka melakukannya dengan cara bersembunyi di balik foto profil seorang muslimah.

Bul zamzam, fa-tu’rof (kencingi sumur zamzam, maka kau bakal tersohor). Barangkali pribahasa arab ini yang cocok bagi mereka. Atau mungkin mereka adalah sejenis kancil yang ngidam banget makan buah anggur. Tapi tubuh dan kakinya kerdil sehingga lompatannya tidak berhasil menjangkau anggur masak yang masih tergantung di pohonnya. Karena lompatannya selalu gagal menjangkau buah anggur yang bikin ngiler, sang kancil pun meradang. Sambil berlalu dia mengumpat dan mencaci maki, “anggur pahit, anggur asem!” Padahal dia sendirilah yang pahit dan asem hatinya.

Sepanjang sejarahnya, Islam sudah dilecehkan. Bahkan sejak jaman Rasulullah, Pelopornya adalah orang-orang Yahudi kala itu. Jadi tidaklah heran jika dalam salah satu postingan dalam blog tersebut ada yang mengagung-agungkan Israel sekaligus merendahkan martabat negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim.

Dalam bahasa Qur’an, pelecehan Islam disebut istihza’. Secara lughowi artinya memperolok-olok. Secara syar’i, istihza’ adalah tindakan melecehkan agama. Istihza’ hanya dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keimanan. Tanpa keimanan, berarti tanpa ketaqwaan hati. Dan orang yang memiliki ketakwaan hati tidak mungkin melakukan pelecehan terhadap hukum-hukum agama, saudara seiman, Rasulullah apa lagi kepada Tuhannya. "Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (Al Hajj:32).

Jadi, apa untungnya berdebat dengan mereka yang telah secara sengaja melecehkan agama? Karena sesungguhnya mereka hanya orang-orang yang hatinya dipenuhi kedengkian, otaknya hanya berisi limbah kebencian dan sama sekali bukan orang yang hendak mencari kebenaran.

Upaya agar blog tersebut diblokir atau ditutup, sah-sah saja. Tetapi sebaiknya cukup menggunakan mekanisme yang telah diaturkan oleh pihak wordpress. Jangan malah melakukan penggalangan dukungan besar-besaran melalui ruang cyber seperti jejaring social, forum, milis dan lain-lain yang ujung-ujungnya justru mendatangkan reach ke blog bersangkutan. Siapa tahu, otak gerakan mencari dukungan untuk menutup blog tersebut sebenarnya adalah Si Empunya blog sendiri!

Dengan menulis artikel ini, sama sekali aku tidak berniat mengajak berdebat dengan blogger nyleneh tersebut. Aku hanya mengingatkan, bahwa apa yang anda lakukan hanya membuang energi saja. Kalau masih mungkin, apa tidak sebaiknya maksimalkan saja energi anda untuk hal-hal yang lebih nyata? Jangan banyak bengong. Terakhir aku melihat orang yang serupa dengan anda, berakhir tragis. Dia sering terlihat lalu-lalang di jalanan umum dengan tanpa sadar bahwa dirinya telanjang bulat!

Menyisakan satu pertanyaan di hati, di negara ini Islam yang mayoritas justru selalu dilecehkan, diinjak-injak dan dinistakan, bagaimana jika minoritas?

0

Percuma Saja Berdo'a, Tuhan Tak Bakal Mengabulkan....

Api itu menyala karena dorongan telapak tangan kecilku. Aku terkesima dan takjub luar biasa. Karena penasaran, aku matikan apinya dan kembali memejamkan mata, konsentrasi penuh kepada keinginan agar dengan bantuan Tuhan serpihan kayu itu bisa menyala, kemudian aku hempaskan telapak tanganku ke arah serpihan kayu seraya melafadzkan basmalah, “Bismillahirrohmaanirrohim….!!!”

Dan, blarrrr! Api menyala membakar serpihan kayu seperti membakar kertas koran. Dalam batinku, aku merasa ternyata aku hebat. Hanya dengan hempasan tangan api bisa menyala. Segera aku matikan apinya dan mengulangi gerakan seperti di atas. Ternyata untuk kali ketiga hempasan tanganku tidak mampu menyalakan api. Lalu aku ulangi, masih belum bisa. Diulangi lagi sampai kesekian kali, ternyata tidak ada lagi api yang keluar membakar serpihan kayu.

Peristiwa di atas adalah nyata. Aku masih berumur sembilan tahun. Ketika itu liburan kenaikan ke kelas empat sekolah dasar. Kebetulan ada seorang kakak iparku yang bekerja di sebuah bengkel meubel di daerah Kramat Jati, Jakarta, mengajakku selama dua minggu untuk jalan-jalan ke ibukota.

Suatu hari aku diajak ke tempatnya bekerja. Seorang pekerja aku perhatikan sedang berusaha menghidupkan api untuk membakar dempul. Tapi rupanya sang api tidak kunjung menyala. Dia pergi mencari ke sudut-sudut bengkel untuk mencari sesuatu yang mudah menyala.

Iseng aku dekati tumpukan beberapa batu batu yang dijadikan tungku untuk membakar kaleng bekas yang berisi bahan dempul. Aku perhatikan beberapa serpihan kayu sedah terbakar sebagian dengan menyisakan bara kecil. Dan, aku ingat kata ustadxku di madrasah yang mengatakan bahwa Tuhan itu bid dzonni ‘abdih (Tuhan tergantung dari persangkaan hamba-Nya).

Apa yang ada di dalam benak seorang bocah sembilan tahun? Secara naluri, dengan kesederhanaan pemikiran dan keterbatasan pengalaman sangat mudah baginya untuk meyakini sebuah asumsi. Apa lagi jika asumsi itu datang dari seseorang yang di mata Sang Bocah adalah sosok panutan yang harus digugu dan ditiru

Demikianlah, ketika aku begitu meyakini bahwa Tuhan selaras dengan apa yang aku pikirkan tentang-Nya, maka aku pun bisa melakukan apa yang ada dalam pikiranku. Yakni, dengan jalan berdo’a dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan mengabulkan apa yang menjadi keinginanku..

Benarkah demikian? Selalu berdo’akah anda? Apa saja yang anda pinta dalam do’a-do’a anda? Sedikit evaluasi, dari sekian banyak permintaan dalam do’a anda coba sebutkan apa saja yang sudah dikabulkan dan apa saja yang belum dikabulkan. Aku selalu berdo’a setiap waktu. Khususnya setiap usai salat lima waktu. Banyak permintaan yang aku sampaikan dalam do’aku. Tapi sejujurnya, aku tidak tahu mana-mana do’a yang sudah dikabulkan dan yang belum dikabulkan.

Yang aku rasakan adalah bahwa sangat sering aku mengucapkan do’a dengan pikiran yang tanpa fokus, serta tanpa keyakinan. Karena ternyata untuk meyakini suatu do’a yang kita panjatkan adalah sangat tidak gampang. Apa yang ada dalam pikiranku sekarang sangat berbeda jauh dengan ketika aku masih berumur sembilan tahun.

Banyak hal yang telah aku lihat, banyak prilaku yang telah aku perbuat dan banyak pengalaman yang telah melibatkan kejiwaanku ternyata merubah keadaan mental spiritualku. Harapan-harapan yang tidak terwujud, keinginan-keinginan yang masih tetap saja menjadi keinginan serta banyaknya kegagalan yang pernah aku alami, memunculkan keraguan dalam setiap do’aku.

Bagaimana Tuhan akan mengabulkan do’aku jika aku sendiri meragukan bahwa Tuhan akan memberi apa yang aku minta? Kalau begitu, percuma saja aku berdo’a jika tahu do’aku bakal tidak terkabul…..

Barangkali, anda juga pernah merasakan hal yang sama bukan? Merasakan sulitnya untuk memiliki keyakinan saat berdo’a, sehingga do’a anda hanya di mulut seperti orang mengigau. Misalnya, suatu ketika dalam tidurnya anak anda berteriak-teriak, “Ayah, Ibu…. Ganti channel tivinya, ade mau nonton film kartun….!” Apakah mungkin anda akan bangun kemudian menyalakan tivi dan mencari acara film kartun?

Terlepas dari apakah kita bisa atau tidak meyakini dari setiap do’a yang kita panjatkan, maka sesungguhnya tidak penting apakah Tuhan bakal mengabulkan atau tidak dari do’a yang kita panjatkan. Karena berdo’a adalah perintah Tuhan. Dalam sebuah hadist riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda, do’a adalah inti ibadah. Sedangkan tujuan Tuhan menciptakan jin dan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Meski pun begitu, aku masih sering berkhayal, seandainya mental spiritualku seperti ketika masih berumur sembilan tahun boleh jadi aku bisa melakukan apa saja yang ada dalam pikiranku!

0

Antara Kau, Gus Dur, Istriku dan Aku

Rabu petang 30 Desember 2009, jutaan kaum nahdliyin seantero nusantara tak kuasa menahan perginya kehidupan dari jasad KH Abdurahman Wahid. Kematian datang tak terbendung. Rasa cinta jutaan umat kepada Gus Dur, bahkan seandainya bisa mungkin ada di antaranya yang rela bertukar takdir, tapi ajal itu datang menjemput tak tertangguhkan lagi.

Datangnya maut menghentikan seluruh aktivitas dan keinginanannya di dunia ini. Baik dalam hal jam’iyah terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya, partai politik yang didirikannya, urusan kenegaraan, hukum sampai keinginan menimang bakal cucu yang masih dalam kandungan putrinya.

Tepat setahun lalu, istriku wafat di pangkuanku. Aku menyaksikan dan merasakan langsung bagaimana kehidupan raib dari jasad istriku. Semula telinganya masih mendengar bisikanku yang menuntunnya membaca syahadat.. Aku tahu, sebab aku mendengar suara berat yang keluar dari tenggorokannya menirukan apa yang aku bisikan. Kemudian bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, matanya meredup, nafasnya menyapu lembut dan sangat aku rasakan hembusannya untuk terakhir kali.

Besarnya sayang dan cintaku kepadanya tak mampu menghentikan kehidupannya untuk pergi meninggalkan aku. Tangisan sanak keluarga tak berarti apa-apa. Bahkan jeritan gadis kecil satu-satunya putri kesayangan kami yang memanggil-manggil mamanya tak merubah apa pun jua.

Istriku meninggal. Kini dia hanya jasad yang terbujur kaku. Tanpa bisa berkedip, mendengar, merasakan, melenggok, tertawa nakal, merajuk dan fungsi tubuh lain yang selama belasan tahun aku lihat. Apa yang telah kami alami bersama hanya bingkai fragmen kenangan.

Kehidupan yang berlaku dan kita alami bersama tanpa disadari semakin mendekatkan kita kepada kematian. Pernahkah anda membayangkan saat-saat ajal datang menjemput? Pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan pasti kita akan dihampirinya. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Hanya kepada kami kamu dikembalikan. (QS. 29:57).

Ketika kehidupan terlepas dari tubuh kita, maka lenyaplah semua fungsi tubuh. Wajah cantik atau ganteng anda tak mempesona lagi, tubuh seksi dan kulit mulus yang selalu dirawat tak berarti apa-apa. Yang tersisa hanya onggokan daging dan tulang belulang, yang akan segera di benamkan ke dalam tanah lembab. Tamat sudah cerita tentang anda.

Suami atau istri tercinta yang ditinggalkan dengan segera menjadikan anda sebagai masa lalu. Dia tidak mau terus-menerus larut dalam kesedihan dengan mengenang anda. Sanak-saudara bahkan anak-anak kesayangan akan melanjutkan hidup dengan menepis baying-bayang anda. Apa yang terjadi dengan harta-benda yang sudah anda kumpulkan semasa hidup dengan cucuran keringat dan air mata? Bagaimana dengan benda-benda kesayangan yang anda miliki?

Sementara jasad kita membusuk terbenam dalam kubur. Tubuh kita menjadi sarang bakteri dan serangga, bagian perut memengkak. Kemudian dari mulut dan hidung keluar buih-buih darah yang meletup oleh tekanan gas di sekitar diafragma. Rambut rontok habis dan kuku coplok dari jarii-jari. Jantung, hati dan paru-paru membusuk. Perut pecah karena tekanan gas di dalamnya sehingga semua isi perut menyemburat keluar meniupkan bau busuk yang teramat sangat. Wajah rupawan dan tubuh seksi anda berakhir dalam wujud kerangka saja.

Betapa kematian itu pasti dan misteri. Tak perduli siapa anda, siapa aku. Kematian orang lain yang pernah kita lihat adalah pelajaran berharga bagi kita yang masih punya sisa usia.

0

Konsep Kaya Raya Yang Wusss-wusss

Hari ini saya membaca iklan di sebuah harian lokal dengan tulisan TANPA MODAL yang sangat mencolok. Ternyata itu adalah iklan seminar ‘JADI PENGUSAHA DEVELOPER PROPERTY DENGAN MODAL KECIL atau TANPA MODAL”.

Bagi sebagian kawan-kawan saya, informasi seperti ini bisa menjadi oasis yang mengundang gairah di tengah keterpurukan ekonomi. Seolah menjadi solusi dari segala permasalahan yang tengah melilit urat nadi kehidupannya. Bagaimana tidak, dengan mengikuti sebuah seminar orang bokek akan dicetak menjadi seorang developer property tanpa harus hutang bank.

Saya akui, mungkin dengan mengetahui instrument yang ditularkan dalam seminar siapa saja bisa melakukannya asal mempunyai kemauan. Lokasi proyek bisa tanpa beli asal ada pemilik tanah yang mau diajak bekerja sama, biaya konstruksi di talangi kontraktor yakni dengan pembayaran per termijn dan dana yang untuk membayar kontraktor bisa menggunakan uang bank melalui KPR.

Tapi jika tanpa sepeser pun modal uang? Bagaimana dana awal untuk membuat perijinan dan legalitas, pembuatan marketing keet, pematangan lahan dan biaya perencanaan? Itu semua harus dilakukan sebelum ada penjualan.

Sebelumnya dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pembicara yang sudah sukses menjadi kaya dengan cara tersebut, atau kawan-kawan yang yang telah bekerja keras untuk menyelenggarakan seminar semacam ini, saya mohon maaf jika tulisan saya kurang bisa di terima. Saya hanya bermaksud mengungkapkan pendapat dari sisi yang mungkin berbeda dari pola pandang anda, dan fakta jamak dari investasi yang selalu HIGH RISK, HIGH RETURN.

Seminar serupa, bukan hal baru. Banyak ragam dan polanya. Saya sendiri pernah ditraktir oleh seorang teman selembar tiket yang bernilai Rp 100.000,- untuk mengikuti seminar 2 jam tentang bagaimana bisa cepat kaya dengan modal dengkul, bisa membeli property ratusan juta rupiah tanpa sepeser pun modal uang. Katanya, cara gila menjadi kaya raya. Dan memang konsep kaya yang dibagikan di situ gila beneran. Kesuksesan seseorang diukur dari nilai hutangnya di bank, semakin besar hutang berarti semakin sukses. Benarkah? Wallaahu a’lam bi showaab.

Rupanya nafsu untuk memiliki banyak harta benar-benar dimanfaatkan oleh mereka yang lihai bermanuver dengan angka, yakni dengan menawarkan konsep kaya yang bisa memacu adrenalin semua orang. Bermunculan trik dan methode menjadi kaya yang tanpa modal uang, tanpa kerja keras dan yang mencengangkan adalah hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kayak teks proklamasi.

Yang paling gamblang dan paling mudah ditemukan di sekeliling kita adalah MLM atau Multi Level Marketing. Nyaris semua MLM mengaku bahwa konsep bisnis mereka adalah LUUAAAARRRR BIASA! Celakanya methode pelatihan atau “seminar” yang diselenggarakan kebanyakan perusahaan MLM penekanannya pada iming-iming cepat kayanya yang membuat libido para membernya memuncak, bukan pada pembuktian kekuatan dan keampuhan produknya.

Anda yang mungkin pernah mengikuti seminar atau apalah namanya yang diselenggarakan oleh kalangan tertentu yang mengajak hidup bergelimang harta dengan cara mudah dan secepat kilat, tentu sangat hafal dengan suasana ketika acara tengah berlangsung. Biasanya pembicara atau leader memberi testimoni dengan pamer kekayaan, rumah, mobil mewah, kapal pesiar dan lain-lain. Hiruk pikuk aplous dan jejingkrakan sambil lantang meneriakan, LUUAAARRRR BIASA!!!

Ada yang berhasil sukses dengan menjalankan methode yang “LUUAARRR BIASA” tersebut. Tapi sangat banyak yang kemudian terpuruk dan terpelanting di tengah jalan kehabisan nafas. Nahasnya lagi, ada yang setelah bertahun-tahun setia menjalankan sistem dengan cucuran keringat dan air mata, kehidupannya belum beranjak naik. Tubuhnya makin garing, kemana-mana naik kereta angin yang semakin butut dan masih saja ngisep kretek murahan yang dibeli dengan ketengan.

Siapa yang salah? Berdosakah ia?

Tawaran kaya yang cring-cring dan wuss- wuss ternyata sangat ampuh untuk membuat orang secepat kilat bergelimang harta Khususnya mereka yang berjingkrak-jingkrak di depan forum. Tapi bagi kita yang hanya duduk di kursi memberi aplous? Entahlah.