Lewat jam 12 tengah malam, kamis 12 april 2012, aku dan istriku mengetuk pintu rumah Bidan Kristin, bidan yang 2 bulan belakangan menangani pemeriksaan kandungan istriku dan tempat kami berkonsultasi sekitar proses kelahiran. Ya cuma berdua. Sanak saudara kami tinggal di Tegal. Di Pemalang kami hanya tinggal berdua. Putri, gadis kecilku sekolah dan tinggal bersama embahnya di Tegal. Sabtu sore biasanya aku menjemputnya, dan mengantarnya kembali ke Tegal senin pagi.
Berulangkali ketuk pintu, meneriakan salam, belum juga dibukakan pintu. Aku mencoba telpon ke nomor hape Bidan Kristin, tidak diangkat. Maklumlah tengah malam. Kemarin siang kami diberitahu kalo Sang Bidan berangkat ke Semarang untuk mengikuti sebuah seminar. Yang jaga rumah adalah 2 orang asistennya. Sebelumnya aku pernah nanya, jika tengah malam kami butuh pertolongan apa bisa kami ketuk pintu? Dia jawab, "dua puluh empat jam, Pak!"
Akhirnya kami putuskan balik ke rumah, menunggu datang pagi. Istriku gelisah, menahan perut mulas semalaman. Sengaja kami tidak pergi ke bidan lain atau rumah sakit. karena sebenarnya kami sudah sangat yakin dan cocok pelayanan Bidan Kristin dan para asistennya. Ramah, telaten, terbuka dan sangat informatif. Apa lagi sejak awal, istriku menginginkan persalinan yang normal, gampang dan cukup ke bidan saja. Bahkan kalo bisa di rumah. Tapi sayangnya Ibu Bidan tidak mau datang ke rumah. "Nanti peralatannya susah," alasannya.
"Subhanallah....!" desis istriku. Kaget campur senang begitu asisten bidan yang melakukan observasi meyatakan sudah bukaan lima, keesokan paginya ketika kami datang lagi. "Dua jam lagi bayinya lahir, Pak!" tegas asisten. Terharu dan berdebar jantungku . Berarti jam 8 pagi ini aku sudah bisa melihat anakku.
Istriku belum dibolehkan mengejan karena belum lengkap bukaannya. Aku mendapat tugas memberikan rangsangan kontraksi dengan cara memainkan-mainkan bagian nipple istriku. Istriku merintih, mengerang berkepanjangan hingga dua jam pun telah lewat. Dan bayi belum lahir. Sang Asisten bolak-balik memeriksa jalan lahir dan denyut jantung bayi yang masih dalam kandungan. Katanya kepala bayi sudah mapan, dan denyut jantungnya 135 - 145. Artinya semua normal, tapi masih menunggu hingga lengkap bukaan 10.
Lagi, istriku mengerang, menjerit menahan kontraksi. Detik demi detik, menit demi menit sumpah sangat mengerikan. Ratusan bahkan mungkin ribuan kali rintihan, jeritan, cengkeraman tangannya di seprei, di lenganku sampai jambakan di rambutnya sendiri. Matanya mengejap, keringat dingin yang menetes-netes dan tubuhnya meliuk-liuk menahan sakit yang semakin sakit. "Semakin sakit semakin bagus, Bu.....!" ujar asisten bidan enteng. Aduh, ya Rob! Hamalathu ummuhuu wahnan ala wahnin!
"Sudah lengkap, Bu!" teriak Sang Asisten Bidan sesaat setelah melakukan observasi di bagian jalan lahir.
Pas jam 12 siang. Dua orang asisten bidan itu langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk proses persalinan. "Sekarang saatnya ngeden, Bu....!" katanya. Dadaku bergemuruh. Entah apa yang bakal terjadi setelah ini.
Istriku mulai ngeden. Sekali, dua kali sampai berkali-kali. Ya Allah..... tak tega rasanya. Tetapi aku menangkap raut muka galau di wajah dua orang asisten itu. "Mbak, cobalah telpon Bu Kristin yah...." kataku.
Setelah menelepon, ngeden dihentikan. Firasatku benar. Rupanya mereka belum cakap melakukan observasi. "Sebenarnya sudah bukaan berapa, Mbak? tanyaku.
"Tadi sudah lengkap, tapi sekarang mundur lagi jadi delapan.....".
Aduh.....! Jujur, aku sangat tidak percaya dengan jawabannya. Apa itu bukaan pun, aku hanya bisa mengucapkan tak tahu apa maksudnya. Aku menjadi bego sebegonya. Sungguh tak tahu kudu ngopo aku iki! Akhirnya aku manut saja. Menunggu, dan menunggu. Sementara istriku semakin kepayahan....
Sekira jam 2 siang kami kedatangan beberapa wanita berbaju putih. Si Asisten mengenalkan bahwa mereka dari RSU, teman-teman Ibu Kristin. Katanya, salah satu di antara mereka, adalah kepala ruangan persalinan di RSU. Yang disebut sebagai kepala ruangan persalinan RSU langsung melakukan observasi. "Sebenarnya sudah bukaan berapa, Bu?" tanyaku.
"La tadi katanya sudah bukaan berapa?" katanya enteng sambil melirik dua asisten. "Ditunggu aja, semua normal," katanya sambil berkemas untuk pergi.
Rada plong, walaupun tetap saja ragu. Ragu yang sangat. Tapi aku putuskan coba nurut. Detik-detik yang pilu dan mengerikan pun masih berlanjut. Dua orang asisten bidan itu bolak-balik mengingatkan aku agar terus bermain-main dengan nipple istriku. Katanya biar cepet lahir. Sehingga datang waktu maghrib, aku pamit kepada isriku untuk salat maghrib. Dengan hati galau dan panik aku salat sunah beberapa rokaat. Dalam sujudku aku berbisik berulang-ulang, fa inna ma'al 'ushri yusro!
Aku juga meneguhkan keyakinanku bahwa tak ada hal buruk yang bakal menimpaku. Pasti dan pasti! Bukankah aku sudah berdo'a, setiap selesai salat berjamaah dengan istriku dan setiap menjelang tidur selalu aku belai-belai perut istriku seraya berulang-ulang membaca surat at-taubah 128 , "laqod jaa'akum rosuulum min anfusikum 'aziizun 'alaihi maa 'anittum hariishun alaikum bil mu'miniina rouufur rohiim....!
Karena situasi tak belum juga menampakan tanda-tanda yang menggembirakan, selepas isyak, kami putuskan minta rujukan. Keadaan istriku sudah sangat lemah. Kata Bidan Kristin, via telpon, ke Rumah Bersalin PERMATA HATI saja karena bisa langsung ditangani dokter. Yups.

